RELUNG.ID – Harga ayam potong di sejumlah pasar Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Saat ini, harga ayam di tingkat pasar berada di kisaran Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari terganggunya produksi ayam akibat kondisi cuaca panas dan meningkatnya biaya pemeliharaan yang harus ditanggung peternak.
Ketua Asosiasi Perunggasan Sumatera Selatan, Ismaidi, mengatakan suhu panas membuat pertumbuhan ayam pedaging tidak optimal sehingga waktu dan bobot panen ikut terpengaruh.
Dalam kondisi normal, ayam berusia sekitar 30 hari sudah dapat dipanen dengan bobot rata-rata mencapai 2 kilogram. Namun, kondisi saat ini membuat bobot ayam pada usia yang sama hanya sekitar 1,6–1,8 kilogram.
“Umur ayam 30 hari biasanya sudah bisa dilakukan penjualan dengan ukuran sekitar 2 kilogram. Namun sekarang di umur 30 hari bobot ayam paling berkisar antara 1,6 sampai 1,8 kilogram,” ujar Ismaidi, Jumat (21/8/2026).
Menurut Ismaidi, penurunan bobot ayam tersebut turut memengaruhi ketersediaan ayam siap jual di pasaran.
Di sisi lain, peternak juga menghadapi peningkatan biaya produksi. Kenaikan harga bahan bakar dan bahan baku pakan menjadi sejumlah faktor yang menambah beban biaya pemeliharaan.
Sebagian bahan baku pakan masih bergantung pada impor sehingga harganya turut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Kondisi cuaca juga memberikan tekanan tambahan. Kemarau yang dipengaruhi fenomena El Niño berdampak terhadap ketersediaan jagung yang menjadi salah satu bahan utama pakan ayam.
“Jagung dengan kondisi kemarau El Niño ini berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ayam,” katanya.
Persoalan tidak hanya terjadi pada pakan. Ketersediaan air juga menjadi tantangan bagi peternak selama musim kemarau.
Air dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan minum ayam sekaligus menjaga kebersihan kandang. Ketika sumber air berkurang, peternak terpaksa membeli air untuk memastikan kebutuhan operasional tetap terpenuhi.
Kondisi tersebut membuat biaya pemeliharaan semakin tinggi. Keterbatasan air juga berpotensi memengaruhi kebersihan kandang dan kondisi ayam apabila tidak ditangani dengan baik.
Di tengah kenaikan harga, Ismaidi mengatakan kebutuhan ayam di Sumsel masih dapat dipenuhi oleh produsen lokal.
Konsumsi ayam potong di Sumsel diperkirakan mencapai sekitar 2,35 juta ekor per hari. Sejauh ini, pasokan dari peternak yang ada di Sumsel masih mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
Sementara itu, harga ayam hidup (live bird) di tingkat peternak saat ini berada di kisaran Rp25.500 per kilogram.
Menurut Ismaidi, harga di tingkat konsumen sangat dipengaruhi mekanisme permintaan dan ketersediaan barang. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga ayam di pasar cenderung ikut naik.
“Kalau kebutuhan banyak, namun barang yang ada di lapangan tidak ada, tentu harga akan naik. Ini kondisi riil yang terjadi di lapangan,” jelasnya.
Ismaidi berharap pemerintah, produsen, dan konsumen dapat memiliki pemahaman yang sama mengenai pembentukan harga ayam.
Menurutnya, kenaikan harga di pasar tidak selalu disebabkan oleh keputusan peternak. Banyak faktor produksi yang berada di luar kendali produsen, mulai dari cuaca, harga pakan, bahan bakar, hingga ketersediaan air.
“Ke depan kita akan berusaha bagaimana agar harga tersebut disamaratakan persepsinya, agar tidak ada kesalahpahaman antara konsumen dan produsen dan tidak hanya menyalahkan produsen ketika ada kenaikan harga ayam di pasaran,” pungkasnya. (CKM)

