RELUNG.ID – Para petani pepaya di Kecamatan Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang dihadapkan kekhawatiran.
Pasalnya, hasil tanaman pepaya mereka dijual dengan harga tidak stabil dan rendah.
Hal ini dialami salah satu petani asal Lintang Kanan bernama Andi, Kamis (15/5).
Dia menceritakan bahwa banyak petani beralih dari tanaman kopi ke pepaya karena dinilai lebih menjanjikan.
“Awalnya kates (pepaya) terlihat menguntungkan. Banyak yang ubah kebun jadi ladang kates. Tapi sekarang, harganya kacau dan sering tak laku,” katanya.
Harga beli pepaya di tingkat petani hanya berkisar antara Rp800 hingga Rp1.000 per kilogram, jauh dari harapan mereka untuk bisa menutupi biaya produksi.
Tak jarang pembeli datang langsung ke kebun, memetik buah yang mereka anggap matang sempurna, namun menolak kates yang terlalu matang atau lembek.
“Banyak kates yang sudah matang terbuang sia-sia, padahal bisa diolah menjadi saus atau produk makanan lainnya,” ujarnya.
Dia pun berharap pemerintah daerah maupun pihak swasta bisa membantu mencarikan solusi. Baik melalui penstabilan harga, kemitraan industri, atau pengolahan hasil pertanian, sehingga tidak ada lagi kates yang terbuang sia-sia.
“Kalau harga bisa naik dan pembeli lancar, Insya Allah masyarakat bisa lebih sejahtera,” tutupnya.
Sementara itu, Camat Lintang Kanan, Kodri Malisi membenarkan kondisi tersebut. Dia mengatakan bahwa produksi pepaya dari wilayahnya bisa mencapai 30 ton per hari, karena banyak warga menanam di lahan belasan hektare per orang.
Sayangnya, karena tidak terserap pasar, buah-buah tersebut menumpuk dan membusuk.
“Kami sudah berupaya mencari pihak yang mau membeli, termasuk industri pengolahan makanan, tapi sampai saat ini belum ada hasilnya. Padahal potensi sangat besar,” singkatnya. (SLM)

