RELUNG.ID- Harapan petani kopi di Kota Pagar Alam dan sekitarnya untuk menikmati harga jual biji kopi yang tinggi pada musim panen tahun ini pupus sudah. Memasuki puncak musim panen, harga kopi justru anjlok di tingkat pengepul lokal.
Jika pada musim sebelumnya harga biji kopi bisa menembus Rp75 ribu per kilogram, kini turun drastis menjadi Rp63–68 ribu per kilogram. Penurunan harga ini membuat banyak petani kecewa, terutama mereka yang menyimpan hasil panen tahun lalu dengan harapan harga akan kembali naik.
“Saya baru saja jual kopi ke agen pengepul, dihargai Rp63 ribu per kilo. Kalau kopi kering dengan kualitas bagus, dihargai Rp67 sampai Rp68 ribu,” ungkap Irawan, petani kopi di Pagar Alam, Senin (26/5).
Ironisnya, kopi simpanan dari musim sebelumnya juga mengalami penyusutan berat karena terlalu lama disimpan, sehingga kerugian petani pun makin besar.
Pengepul kopi lokal di Pagar Alam, Yoyong, menjelaskan bahwa penurunan harga terjadi karena permintaan dari eksportir belum stabil, berbeda dengan musim sebelumnya yang permintaannya cukup tinggi.
“Tahun lalu permintaan ekspor cukup tinggi, jadi kami juga dapat kuota pembelian besar. Sekarang permintaan belum stabil, jadi harga beli pun ikut turun,” jelasnya.
Yoyong menambahkan, kualitas biji kopi juga sangat menentukan harga. Untuk pasar ekspor, diperlukan kopi dengan standar mutu tinggi: biji matang dan kadar air rendah. Namun saat ini, kualitas kopi dari petani dinilai belum memenuhi standar tersebut.
“Petani kita masih fokus pada kuantitas, bukan kualitas. Padahal buyer ekspor itu sangat selektif,” ujarnya.
Sementara itu, Irawan mengakui bahwa proses panen dan pasca panen masih dilakukan secara tradisional. Banyak petani memetik buah sebelum matang sempurna, dan proses pengeringan pun masih menggunakan cara seadanya.
“Yang penting panen banyak. Soal teknik pengolahan kami memang belum terlalu peduli. Kami pikir bagaimana caranya kopi ini cepat dijual dan bisa hasilkan uang,” katanya.[TFK]

