RELUNG.ID — Harga kopi di Sumatera Selatan (Sumsel) melonjak tinggi akibat kurangnya pasokan dan kondisi cuaca ekstrem. Petani kesulitan mendapatkan kopi karena belum masuk musim panen.
Azalea, seorang petani kopi robusta di Pagar Alam, mengungkapkan bahwa harga biji kopi mencapai Rp 50 ribu per kilogram (kg), sedangkan bubuk kopi dijual dengan harga Rp 80-90 ribu per kg.
Menurutnya, harga kopi tinggi karena belum masuk musim panen, sehingga proses pengeringan kopi memakan waktu yang lama.
“Panen kopi baru akan dilakukan pada April 2024. Saat ini, masih sedikit buah kopi yang siap dipanen. Proses pengeringan membutuhkan waktu cukup lama, terutama saat musim hujan,” ujarnya.
Ketua Dewan Kopi Sumsel, M Zain Ismed, menjelaskan bahwa kenaikan harga kopi memiliki dampak positif bagi petani kopi. Faktor-faktor seperti penurunan pasokan kopi tahun lalu dan peningkatan konsumsi global menyebabkan kenaikan harga.
“Kualitas kopi semakin membaik karena adanya pelatihan pasca panen secara rutin. Namun, faktor cuaca yang tidak menentu juga mempengaruhi produktivitas kopi,” tambahnya.
Zain menegaskan bahwa kenaikan harga kopi bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Beberapa negara produsen kopi mengalami tantangan seperti musim dingin ekstrem di Brazil dan peningkatan suhu di negara-negara Asia.
“Himbauan kepada petani kopi adalah menjaga kesuburan tanaman dengan memastikan pasokan air yang cukup untuk meningkatkan produktivitas,” tutupnya. [RG]

