RELUNG.ID – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Selatan mulai membawa dampak terhadap aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Jumlah titik panas atau hotspot terpantau menurun, namun ancaman karhutla belum sepenuhnya mereda.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan hujan yang turun di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dan Lahat pada Jumat (28/8/2026) turut memengaruhi penurunan hotspot.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal positif di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di Sumsel.
“Titik hotspot karhutla mulai terpantau turun karena ada hujan kemarin Jumat di OKU dan Lahat,” kata Sudirman, Sabtu (29/8/2026).
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Sumsel hingga Sabtu (29/8/2026) pukul 05.00 WIB, tercatat 287 titik hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten.
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) masih menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, yakni 101 titik. Berikutnya Banyuasin 53 titik, Muara Enim 48 titik, Musi Banyuasin 28 titik, OKU Timur 15 titik, Ogan Ilir 14 titik, PALI 7 titik, Lahat 5 titik, Musi Rawas 5 titik, OKU Selatan 5 titik, Musi Rawas Utara 4 titik, dan OKU 2 titik.
Namun, penurunan hotspot harian belum cukup untuk menyatakan ancaman karhutla berakhir.
Sepanjang 2026 hingga 28 Agustus, data Sipongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat akumulasi 19.438 titik panas di Sumsel.
Dari sisi kejadian nyata, BPBD Sumsel mencatat 2.001 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 28 Agustus 2026. Luas lahan yang terindikasi terbakar mencapai sekitar 1.926 hektare.
OKI kembali menjadi daerah dengan kejadian karhutla terbanyak, mencapai 354 kejadian. Disusul Musi Banyuasin 237 kejadian, Ogan Ilir 229 kejadian, Banyuasin 220 kejadian, Muara Enim 193 kejadian, Palembang 163 kejadian, dan PALI 151 kejadian.
Persoalan karhutla Sumsel kini tidak hanya terlihat dari jumlah titik panas. Dampaknya masih terasa pada kualitas udara di sejumlah daerah.
Data DLHP Provinsi Sumsel pada Sabtu (29/8/2026) pukul 06.00 WIB menunjukkan ISPU Palembang berada di angka 159, masuk kategori tidak sehat.
Kondisi serupa terjadi di Musi Rawas dengan ISPU 160 dan PALI 174. Angka tersebut menunjukkan kualitas udara di tiga wilayah masih perlu diwaspadai masyarakat.
Artinya, meski hujan mulai membantu menekan kemunculan hotspot, kualitas udara belum serta-merta kembali membaik.
BPBD Sumsel pun masih mempertahankan kewaspadaan karena hujan belum turun secara merata di seluruh wilayah. Lahan yang kering masih berpotensi terbakar apabila kembali terpapar cuaca panas dan aktivitas pembakaran terbuka.
Sudirman mengatakan BPBD tetap melakukan patroli darat dan udara untuk memantau wilayah rawan. Penanganan juga dilakukan melalui pemadaman darat, dukungan helikopter water bombing, sosialisasi pencegahan hingga menyiagakan personel di lokasi yang memiliki potensi karhutla.
“Kita tetap melakukan pemantauan dan penanganan di wilayah yang masih terdapat karhutla. Penurunan hotspot ini tentunya sangat membantu dalam upaya pengendalian karhutla,” tutupnya. (THQ)

