RELUNG.ID- Nama Setyo Budi Sularso atau yang lebih dikenal sebagai Budi Aeromax tengah menjadi sorotan setelah pernyataannya dalam sebuah acara televisi terkait polemik sound horeg dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur viral di media sosial.
Dalam cuplikan acara yang beredar, Budi menggunakan kata “goblok” ketika menyampaikan pandangannya mengenai fatwa tersebut. Ucapannya kemudian menuai kritik hingga pembawa acara meminta Budi mengganti diksi yang digunakan.
Budi akhirnya menyampaikan permintaan maaf. Ia mengakui pernyataan tersebut sebagai kesalahan dan menyebut dirinya khilaf.
Namun, jauh sebelum namanya viral karena polemik tersebut, Budi telah lama berkecimpung di dunia sound system.
Ketertarikan Budi terhadap dunia audio bermula sejak 1998. Ia mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang audio, tetapi memiliki ketertarikan besar terhadap perangkat musik dan kualitas suara.
“Saya itu niatnya kepengin bisa untuk mengoperatori, pegang alat-alat musik kayak gitu, tapi saya itu sama sekali enggak bisa. Tapi telinga saya enggak bisa ditipu,” ujar Budi, Jumat (11/9/2026).
Menurut Budi, ketertarikannya terhadap audio membuatnya kerap mendatangi konser untuk melihat dan merasakan langsung kualitas suara yang dihasilkan.
Ia kemudian mengembangkan hobinya tersebut menjadi usaha sound system.
Budi pernah bercerita bahwa bisnisnya bermula dari empat speaker yang digunakannya untuk acara peringatan 17 Agustus di kampung.
“Awal, 17 Agustus-an itu saya punya sound itu empat speaker. Tak buat 17-an kampung. Terus ya merambah, proses buat acara-acara hajatan. Terus dipakai dulu buat panggung-panggung. Ya terus proses sampai sekarang,” katanya.
Dari skala kecil tersebut, bisnis Budi berkembang hingga menangani berbagai kebutuhan acara dan pertunjukan.
Nama Aeromax juga memiliki cerita tersendiri.
Budi sebelumnya menjalankan usaha dengan nama berbeda. Pada 2012, ia kemudian mengganti nama bisnisnya menjadi Aeromax.
Nama tersebut terinspirasi dari pengalamannya saat berada di pesawat. Ia menggabungkan kata “Aero” yang berkaitan dengan penerbangan dan “Max” yang dimaknainya sebagai maksimal.
“Dari 2004, tadi itu, 2012 baru ganti jadi Aeromax. 10 tahun dari itu jadi Aeromax,” ujar Budi.
Nama Aeromax kemudian menjadi identitas usaha yang bergerak di bidang penyediaan perlengkapan produksi acara.
Usaha Budi tidak hanya menyediakan sound system untuk kebutuhan pertunjukan.
Aeromax juga bergerak dalam penyediaan berbagai perangkat pendukung acara, mulai dari sound indoor dan outdoor, genset, panggung, rigging, alat musik, lighting, LED hingga broadcasting.
Markas usaha tersebut berada di wilayah Lalung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Selain bisnis audio, Budi juga diketahui mengembangkan usaha di bidang lain, salah satunya skincare melalui Enlilla Skincare by Aeromax.
Ia juga disebut memiliki vila di kawasan Selo, Boyolali, Jawa Tengah, yang berada di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.
Nama Budi Aeromax juga sempat muncul dalam sejumlah aktivitas politik.
Pada Agustus 2026, Budi disebut ikut dalam rombongan Relawan Gibran Penerus Jokowi (GPJ) yang menemui Presiden ke-7 Joko Widodo di Solo.
Sebelumnya, Budi bersama sejumlah rekannya juga disebut membawa sound horeg ke Jakarta ketika kampanye pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Gelora Bung Karno.
Kiprah Budi di dunia hiburan juga tidak hanya melalui perangkat audio.
Pemimpin OM LorenZa, Murjiyanto, menyebut grup musik tersebut didirikan oleh Budi Aeromax pada 2007.
Setelah sempat mengalami masa vakum, pengelolaan grup tersebut kemudian diserahkan kepada Murjiyanto pada 2012.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan perjalanan Budi yang cukup panjang di dunia musik dan panggung hiburan.
Nama Budi kemudian kembali menjadi perhatian publik setelah tampil dalam sebuah acara televisi yang membahas polemik sound horeg dan fatwa MUI Jawa Timur.
Dalam acara tersebut, Budi menyampaikan pandangannya dengan menggunakan kata “goblok”. Potongan video pernyataannya kemudian beredar luas di media sosial.
Pernyataan itu menuai sorotan. Bahkan, pembawa acara sempat mengingatkan Budi agar mengganti kata yang digunakannya.
Setelah polemik berkembang, Budi memilih meminta maaf.
Pada Rabu malam, 9 September 2026, ia mendatangi kediaman Ketua MUI Kabupaten Karanganyar, KH Badaruddin, untuk memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permohonan maaf.
“Bukan merasa ya. Saya memang salah. Nggih, khilaf. Ya bagaimanapun saya harus ke orang tua, sama beliau, sama Pak Kiai,” ujar Budi.
Budi mengatakan keputusan tersebut juga didorong oleh nasihat keluarga. Anak dan istrinya mengingatkan agar ia lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat, terutama ketika membahas persoalan yang tengah menjadi perhatian publik.
Kini, nama Budi Aeromax tidak hanya dikenal di kalangan pelaku usaha sound system. Pernyataannya mengenai fatwa MUI membuat sosok yang selama puluhan tahun berkecimpung di dunia audio itu menjadi perhatian luas.
Perjalanan Budi sendiri bermula dari hobi terhadap audio dan empat speaker yang digunakan untuk acara kampung. Dari sana, bisnisnya berkembang hingga mencakup berbagai kebutuhan produksi acara dan sejumlah lini usaha lainnya.
Namun, kali ini bukan kiprahnya di balik perangkat audio yang membuat nama Budi Aeromax viral, melainkan pernyataannya dalam polemik sound horeg yang berujung pada permintaan maaf.[YKP]

