RELUNG.ID – Hari keempat proses identifikasi korban tewas kecelakaan maut bus ALS dan truk tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Kelurahan Karang Jaya, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumsel masih berjibaku mengungkap identitas para korban yang tubuhnya hangus terbakar.
Hingga Sabtu (9/5/2026), tim DVI masih melakukan pengumpulan data antemortem dari keluarga korban dan mencocokkannya dengan hasil pemeriksaan postmortem terhadap jenazah serta potongan tubuh korban.
Kepala RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Budhi Susanto mengatakan, dari seluruh korban meninggal dunia, baru satu jenazah yang telah dipulangkan ke pihak keluarga, yakni Tahrul Hubaidi.
“Korban tersebut meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Rupit sehingga tidak termasuk dalam operasi DVI. Identitasnya juga sudah diketahui sehingga langsung diserahkan kepada keluarga,” ujarnya.
Sementara itu, 16 kantong jenazah yang berisi 17 body part hingga kini belum dapat dipastikan identitasnya. Kondisi tubuh korban yang rusak parah akibat terbakar membuat proses identifikasi mengalami kendala serius.
“Untuk saat ini satu-satunya cara yang paling memungkinkan adalah melalui pemeriksaan DNA,” katanya.
Kabid DVI Pusdokkes Polri, Wahyu Hidayati mengungkapkan, sebagian besar properti pribadi milik korban sudah hancur terbakar sehingga tidak lagi melekat pada tubuh korban.
“Cincin, jam tangan, pakaian, dompet, hampir semuanya sudah terbakar. Yang ditemukan hanya serpihan seperti kepala ikat pinggang, dompet berisi identitas atas nama Sukono, dan potongan jam tangan. Tetapi kami tidak bisa memastikan benda itu milik jenazah yang mana,” jelasnya.
Menurut Wahyu, keluarga korban sebenarnya telah memberikan data cukup lengkap, mulai dari ciri fisik, tahi lalat, tato, warna kulit hingga kondisi rambut. Namun seluruh data itu sulit dicocokkan karena kondisi jenazah yang sudah tidak utuh.
Tim DVI sempat berharap proses identifikasi bisa dilakukan melalui struktur gigi korban seperti pada kasus kebakaran lain sebelumnya. Namun harapan itu pupus karena panas api yang sangat tinggi membuat tulang dan gigi korban rapuh.
“Begitu disentuh, giginya langsung hancur. Bahkan ada yang hancur sendiri tanpa disentuh. Jadi data pembanding dari keluarga tidak bisa lagi digunakan,” ungkapnya.
Saat ini tim DVI sepenuhnya menggantungkan proses identifikasi pada hasil uji DNA. Pemeriksaan tersebut diperkirakan memerlukan waktu sedikitnya lima hari, sambil menunggu seluruh sampel DNA antemortem dari keluarga korban terkumpul.
“Kami memang sangat bergantung pada hasil DNA untuk memastikan identitas para korban,” tandas Wahyu. (FZP)

