RELUNG.ID- Kebijakan terbaru datang dari Iran yang mulai mengizinkan kapal dari negara tertentu melintasi Selat Hormuz. Namun, akses ini hanya diberikan kepada negara yang dianggap “bersahabat”.
Lima negara yang masuk daftar tersebut adalah China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan.
Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebagaimana dikutip dari akun resmi Konsulat Jenderal Iran di Mumbai.
Langkah tersebut muncul di tengah tekanan global, termasuk seruan dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres agar Selat Hormuz dibuka kembali. Penutupan jalur vital ini sebelumnya telah mengganggu distribusi minyak, gas, hingga pupuk dunia—terutama saat musim tanam global.
Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi dunia. Sejumlah negara mulai menerapkan kebijakan penghematan, seperti work from home (WFH) hingga pembatasan penggunaan listrik.
Di Indonesia, pemerintah juga mulai mengkaji kebijakan WFH satu hari dalam seminggu untuk menekan konsumsi energi.
Menanggapi situasi ini, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk segera mencari pasokan minyak mentah dari berbagai negara, mengingat Indonesia belum termasuk dalam daftar negara yang diizinkan melintas.
“Presiden memerintahkan kami untuk mencari pasokan minyak dari berbagai negara dan mengoptimalkan energi yang ada,” ujar Bahlil.
Meski demikian, pemerintah memastikan stok BBM nasional masih dalam kondisi aman, baik untuk bensin, solar, maupun LPG. Bahlil juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak di tengah situasi global yang tidak menentu.
Dampak krisis energi juga mulai dirasakan negara lain. Di Filipina, pemerintah di bawah Ferdinand Marcos Jr. telah menetapkan status darurat energi nasional.
Sementara di Australia, ratusan SPBU dilaporkan kehabisan stok BBM, memaksa pemerintah menggelar rapat darurat untuk mencari solusi.[YKP]

