RELUNG.ID- Iran dilaporkan mempertimbangkan untuk kembali mengizinkan kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz secara terbatas, dengan syarat minyak yang diperdagangkan menggunakan mata uang yuan China.
Informasi tersebut diungkap oleh seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, seperti dikutip CNN dari laporan Al Jazeera. Namun, hingga kini Al Jazeera menyatakan belum dapat memverifikasi kabar tersebut.
Kebijakan ini disebut menjadi bagian dari rencana yang lebih luas dari Teheran dalam mengatur kembali lalu lintas kapal tanker di jalur strategis tersebut, menyusul meningkatnya ketegangan pascakonflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak global, khususnya bagi negara-negara di kawasan Teluk. Penutupan jalur ini sebelumnya telah memicu gejolak harga minyak dunia.
Sebagian besar transaksi minyak global masih menggunakan dolar AS. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, perdagangan minyak dari negara yang terkena sanksi seperti Rusia mulai beralih ke mata uang lain seperti rubel dan yuan.
Dampak dari ketegangan di kawasan tersebut terlihat pada fluktuasi harga minyak mentah dunia. Pada Senin (9/3), harga minyak acuan Brent sempat menyentuh 119,50 dolar AS per barel—level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Harga kemudian sempat turun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran berpotensi segera berakhir. Namun, pada perkembangan terbaru, harga minyak Brent kembali melonjak sebesar 8,54 dolar AS atau sekitar 9,28 persen menjadi 100,52 dolar AS per barel.
Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya serangan Iran terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan Timur Tengah, yang kembali memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas pasokan energi.[YKP]

