RELUNG.ID – Upaya mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terus diperkuat melalui pemanfaatan teknologi dry ice.
Memasuki hari ketiga penerapan, jarak pandang dilaporkan meningkat hingga 6.000 meter.
Gubernur Sumsel, Herman Deru mengatakan, penggunaan teknologi dry ice dilakukan secara berkelanjutan dengan mengerahkan dua pesawat dan sekitar 1,5 ton bahan setiap hari. Perkembangan jarak pandang tersebut menjadi salah satu indikator yang dipantau dalam upaya mengurangi dampak kabut asap.
Hal itu disampaikan Herman Deru seusai mengikuti rapat koordinasi penanganan karhutla bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Kristomei Sianturi, di Base Ops Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) Palembang, Minggu (18/10).
“Alhamdulillah, hari ini jarak pandang bertambah menjadi 6.000 meter. Teknologi dry ice ini sudah memasuki hari ketiga, setiap hari menggunakan 1,5 ton dengan dua pesawat. Koordinasi terus kami lakukan bersama Menteri, BMKG, dan BNPB,” ujar Herman Deru.
Menurut Herman Deru, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas sektor agar berbagai langkah yang dilakukan dapat berjalan optimal. Selain pemadaman di titik kebakaran, pemanfaatan teknologi juga terus diupayakan untuk membantu mengurangi dampak kabut asap.
Kunjungan Kepala BNPB ke Sumatera Selatan dilakukan untuk meninjau langsung upaya penanggulangan karhutla sekaligus mengevaluasi kebutuhan daerah dan dukungan yang diperlukan dari pemerintah pusat.
Kristomei Sianturi mengatakan, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah perlu diperkuat untuk memastikan seluruh langkah penanganan berjalan efektif, cepat, dan tepat sasaran.
“Kita sudah berkoordinasi. Tinggal bagaimana kita mengefektifkan upaya yang dilakukan Satgas Karhutla agar benar-benar efektif, cepat, dan tepat,” katanya.
Ia menjelaskan, efektivitas penggunaan teknologi dry ice dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga menjadi perhatian sesuai arahan Presiden. Evaluasi diperlukan untuk mengukur manfaat kedua metode tersebut dalam mendukung penanganan karhutla.
Menurutnya, apabila teknologi dry ice terbukti efektif, efisien dari sisi biaya, dan dapat diterapkan secara luas, metode tersebut berpeluang dimanfaatkan di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa.
“Kalau teknologi ini dianggap bagus, tidak terlalu banyak memakan biaya, dan bisa diaplikasikan di seluruh wilayah Indonesia, mengapa tidak? Kita akan terus melakukan upaya ini seefektif mungkin,” ujarnya.
Kristomei juga menyebut Kalimantan Tengah sebagai wilayah yang menjadi perhatian utama dalam penanganan karhutla berdasarkan data yang dimiliki BNPB, disusul Sumatera Selatan. Kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya penguatan koordinasi serta dukungan pemerintah pusat terhadap daerah terdampak.
Di sisi lain, ia menekankan bahwa keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan petugas di lapangan. Partisipasi masyarakat serta tanggung jawab perusahaan pemegang konsesi dinilai penting untuk mencegah munculnya titik api baru.
Menurutnya, upaya pemadaman akan sulit memberikan hasil maksimal jika pembakaran lahan masih terus terjadi. Karena itu, pencegahan harus berjalan beriringan dengan penanganan kebakaran agar dampak kabut asap terhadap masyarakat dapat ditekan.
“Mari kita bersatu, baik pemerintah daerah, masyarakat maupun pihak swasta. Kita atasi kebakaran ini bersama-sama karena dampaknya dirasakan oleh semua, bukan hanya satu atau dua orang,” tutupnya. (DSK)

