RELUNG.ID – Seorang jemaah haji kloter 15 asal Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan meninggal dunia di Rumah Sakit Madinah.
Jemaah haji meninggal dunia tersebut H Ali Kebar (77), warga Jalan Garuda, RT 4, Kelurahan Watas Lubuk Durian, Kecamatan Lubuklinggau Barat I.
Korban meninggal dunia di Madinah pada Minggu, 30 Juni 2025 waktu setempat. Pihak keluarga mendapatkan kabar tersebut dari Hj Herawati, anak keempat almarhum yang ikut mendampingi pergi naik haji pada Minggu siang sekitar pukul 13.30 WIB.
Kabar tersebut dibenarkan oleh Eliya yang merupakan anak kedua dari almarhum saat ditemui di rumah duka di Lubuklinggau. Ia mengatakan, ayahnya tersebut meninggal dunia karena sakit dan pihak keluarga mendapatkan kabar dari adiknya yang bernama Hj Herawati.
“Dapat kabar kemarin (Minggu) sekitar jam setengah dua, dari Madinah adik nelepon yang memberi kabar,” kata Eliya ditemui di rumah duka pada Senin, 30 Juni 2025.
Dijelaskan, Ayahnya tersebut tadinya dijadwalkan pulang dua hari lagi tepatnya pada tangga 1 Juli 2025 dari Madinah langsung ke Palembang. Kemudian dari Palembang ke Lubuklinggau tiba tanggal 2 Juli 2025 naik bis. Namun keinginan almarhum untuk bertemu dan berkumpul dengan anak dan cucu-cucunya tidak kesampaian.
“Sebagai keluarga kami ikhlas, surga untuk Bapak,” ujarnya.
Eliya mengungkapkan, selama berada di tanah suci menunaikan haji, Ayahnya itu sering kali berkomunikasi via video call didampingi anaknya Hj Herawati. Data video call menurutnya, Ayah kepingin sekali ketemu dengan cucu-cucunya yang ada di rumah.
“Sebab kami kan lima saudara, perempuan semua. Jadi bapak video call terus kalau disana. Memang usai menunaikan haji, bapak sering ngedrop (sakit). Namanya sudah tua, sakit-sakitan,” jelasnya.
Terakhir kata Eliya, keluarga berkomunikasi dengan Ayahnya tiga hari sebelum meninggal. Tidak ada pesan atau firasat yang disampaikan langsung oleh Ayahnya itu saat video call. Hanya saja almarhum mengatakan kalau dirinya baru saja menyelesaikan sholat di Masjid Nabawi.
Selain itu, pada saat almarhum berada di Rumah Sakit’, keluarga sempat berkomunikasi dengan Dokter yang merawatnya. “Dibilangin sama dokternya apa pesan. Dijawab sama Bapak, kapan pulang,” celetuk Eliya sedih.
Almarhum sudah lama ingin berangkat pergi haji. Bahkan sudah menunggu sejak 12 tahun yang lalu. Namun yang tadinya dijadwalkan berangkat pada 2020 ditunda karena Covid 19. Apalagi sang istri telah lebih dulu meninggal.
“Pas Ibu meninggal jadi ditunda. Kami sudah ikhlas, Bapak dimakamkan di Madinah,” terangnya. Eliya juga menambahkan, almarhum meninggalkan lima orang anak dengan 11 cucu. (NSR)

