RELUNG.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat di Kota Palembang.
Sepanjang Agustus 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang mencatat sebanyak 15.020 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Jumlah tersebut menjadi perhatian serius karena terjadi di tengah kondisi kualitas udara Palembang yang sempat memburuk akibat paparan asap karhutla.
Kepala Dinkes Kota Palembang, Fenty Aprina, mengatakan ribuan kasus ISPA tersebut tercatat selama satu bulan pada Agustus 2026.
“Selama periode Agustus 2026 tercatat sebanyak 15.020 kasus ISPA di Kota Palembang,” ujar Fenty, Sabtu (5/9/2026).
Menurut dia, tingginya angka kasus ISPA tidak terlepas dari kondisi udara yang mengalami penurunan kualitas. Kabut asap dan tingginya kandungan partikel di udara dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Meski demikian, Dinkes Palembang memastikan tidak terdapat laporan kematian akibat ISPA selama periode tersebut.
ISPA sendiri dapat menyerang seluruh kelompok usia. Namun, anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit atau gangguan pernapasan menjadi kelompok yang lebih berisiko terdampak ketika kualitas udara memburuk.
Selain asap karhutla, musim kemarau juga turut memperparah kondisi udara. Debu dan berbagai partikel yang beterbangan di udara dapat memicu keluhan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan.
Karena itu, Dinkes Palembang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.
Warga juga diingatkan untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan masker saat berada di luar ruangan.
“Penggunaan masker menjadi salah satu langkah efektif untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, terutama saat musim kemarau dan kondisi udara dipenuhi asap maupun debu,” kata Fenty.
Selain melakukan langkah pencegahan, masyarakat diminta tidak mengabaikan berbagai gejala awal gangguan pernapasan, seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan hingga sesak napas.
Warga yang mengalami keluhan tersebut dianjurkan segera memeriksakan kondisi kesehatannya ke fasilitas pelayanan kesehatan.
“Kami mengingatkan masyarakat agar terus memantau kondisi kualitas udara dan meningkatkan langkah perlindungan diri, mengingat dampak asap karhutla masih berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat,” tutupnya. (DSK)

