RELUNG.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kota Pagar Alam.
Dalam sepekan terakhir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pagar Alam mencatat sedikitnya tujuh titik karhutla terjadi di Kecamatan Dempo Selatan.
Tujuh titik kebakaran tersebut tersebar di sejumlah lokasi dengan jarak yang cukup berjauhan. Kondisi itu membuat petugas BPBD, pemadam kebakaran (Damkar), dan unsur terkait harus bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya untuk melakukan pemadaman dan melokalisasi api.
Kepala BPBD Kota Pagar Alam Agus Ahmad mengatakan, laporan karhutla hampir diterima setiap hari, terutama dari wilayah Kecamatan Dempo Selatan.
“Nyaris setiap hari kami menerima laporan adanya Karhutla terutama di kecamatan Dempo Selatan yang sudah tertangani sebanyak 7 titik yang jaraknya cukup berjauhan meski dalam satu kawasan kecamatan,” kata Agus, Senin (7/9/2026).
Menurut Agus, kebakaran yang terjadi sebagian besar berada di lahan tidur dengan kondisi vegetasi yang mulai mengering sehingga mudah terbakar. Selain itu, terdapat pula sejumlah titik yang berada di kawasan perkebunan kopi milik masyarakat.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BPBD bersama petugas terkait menyiagakan personel dan peralatan di sejumlah lokasi yang dinilai rawan.
“Untuk personel dan perlengkapan kami siagakan di lokasi lokasi rawan sekitar kecamatan itu tapi kecamatan lain tetap kami lakukan patroli rutin untuk antisipasi,” ujarnya.
Agus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya saat berada di kebun atau ladang.
Bagi warga yang bermalam di kebun, ia menyarankan agar tidak membuat perapian untuk memasak di luar pondok. Sebagai alternatif, masyarakat dapat menggunakan kompor berbahan bakar gas.
Imbauan juga ditujukan kepada pengendara yang melintas di kawasan Liku Lematang hingga Liku Endikat, Kecamatan Dempo Selatan. Pengendara diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan karena bara rokok berpotensi memicu kebakaran pada semak dan lahan yang kondisinya kering.
“Hingga sekarang kekhawatiran kami Karhutla terjadi akibat kecerobohan warga sendiri seperti membakar sampah sembarang atau membuang puntung rokok di pinggir jalan atau membuat tungku perapian di kebun,” tutupnya. (TFK)

