MUARA ENIM – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divre III Palembang memperkuat sinergi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan melalui pembangunan dua flyover di Kabupaten Muara Enim. Proyek ini ditujukan untuk menghilangkan kemacetan di perlintasan sebidang, meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api, sekaligus memperlancar distribusi logistik nasional.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pembangunan flyover di JPL 99 Belimbing Pendopo dan JPL 111 Ujan Mas, Senin (6/7/2026), di Balai Serasan Sekundang, Kabupaten Muara Enim.
Penandatanganan dilakukan sebagai bentuk kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kabupaten Muara Enim, PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Selatan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Manajemen Portofolio dan Teknologi Informasi PT KAI I Gede Darmayusa, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Plt Bupati Muara Enim Sumarni, Kepala BBPJN Sumsel Panji Krisna Wardana, Direktur Utama PT Bukit Asam Bambang Ismawan, BPKP Perwakilan Sumsel, jajaran OPD Pemprov Sumsel, serta Forkopimda Kabupaten Muara Enim.
Direktur Manajemen Portofolio dan Teknologi Informasi PT KAI, I Gede Darmayusa, mengatakan pembangunan dua flyover menjadi langkah strategis yang lahir dari kolaborasi pemerintah, BUMN, dan dunia usaha untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Menurutnya, keberadaan flyover tidak hanya memperbesar kapasitas angkutan batu bara, tetapi juga mengurai kemacetan, memperlancar mobilitas masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kami berharap pembangunan flyover ini menjadi solusi mendasar dalam mengurai kemacetan sehingga distribusi batu bara sebagai kepentingan nasional dapat berjalan seiring dengan kelancaran aktivitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Manfaatnya akan dirasakan seluruh pihak, mulai dari PT KAI sebagai operator, PT Bukit Asam, pelaku usaha, hingga masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan pembangunan flyover merupakan jawaban atas persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat akibat padatnya lalu lintas di perlintasan sebidang.
Menurut Herman Deru, proyek tersebut bukan semata-mata untuk mendukung target angkutan batu bara hingga 100 juta ton per tahun, tetapi juga mengembalikan hak masyarakat untuk menikmati akses jalan yang aman, nyaman, dan lancar.
“Pembangunan ini adalah jawaban atas kebutuhan masyarakat. Yang kita integrasikan bukan hanya kepentingan komersial, tetapi juga kepentingan masyarakat dan pemerintah. Ketika logistik bergerak lebih cepat, ekonomi juga akan tumbuh. Tujuan kita bukan hanya membuat lalu lintas lebih nyaman, tetapi juga mempercepat logistik dan menggerakkan perekonomian karena waktu tempuh semakin singkat,” kata Herman Deru.
Ia berharap keberadaan dua flyover tersebut mampu menghilangkan hambatan di perlintasan sebidang sehingga perjalanan kereta api maupun kendaraan dapat berlangsung lebih aman, lancar, dan andal.
Manager Humas PT KAI Divre III Palembang, Aida Suryanti, mengatakan pembangunan flyover merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan keselamatan di perlintasan kereta api.
Dengan dipisahkannya jalur kereta api dan jalan raya, kata Aida, potensi kecelakaan dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, waktu tempuh pengguna jalan menjadi lebih efisien, sementara operasional kereta api dapat berjalan lebih aman, lancar, dan tepat waktu.
“Pembangunan flyover ini merupakan bentuk komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan keselamatan di perlintasan kereta api. Melalui sinergi seluruh pihak, proyek ini diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi kelancaran operasional kereta api, distribusi logistik nasional, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat,” tutupnya. (KPB)

