RELUNG.ID – Perkembangan teknologi terus mendorong perbankan melakukan berbagai inovasi layanan digital dengan menghadirkan fitur aplikasi yang kompleks.
Dibalik hadirnya fitur yang kompleks, sebagian pengguna justru menginginkan layanan yang sederhana, cepat dan mudah dipahami. Meski sederhana dan mudah. Namun, keamanan tetap terjaga saat melakukan transaksi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Bank Central Asia (BCA) tetap mempertahankan aplikasi mobile banking mereka yakni BCA Mobile.
Aplikasi BCA Mobile ini pun menjadi pilihan dan andalan para nasabah yang menginginkan layanan mudah dan cepat.
Liya Diana Sari (37), salah seorang pengguna BCA Mobile di Palembang, mengaku lebih nyaman menggunakan aplikasi tersebut untuk kebutuhan transaksi sehari-hari.
“BCA Mobile lebih mudah dibandingkan aplikasi lainnya, terutama saat bertransaksi. Menunya sederhana sehingga lebih mudah dipahami,” ujar Liya, Kamis (3/7/2026).
Menurutnya, kemudahan tersebut terasa saat melakukan pembayaran virtual account di berbagai platform belanja daring.
Selain proses transaksi yang cepat, beberapa layanan juga tidak dikenakan biaya administrasi sehingga lebih menguntungkan bagi pengguna.
Ia menilai kesederhanaan antarmuka menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan sejumlah aplikasi perbankan lain yang menawarkan banyak fitur, tetapi terkadang membuat pengguna kebingungan.
“Saya lebih sering menggunakan BCA Mobile saat belanja online menggunakan virtual account karena prosesnya lebih praktis,” katanya.
Selain itu, BCA juga menghadirkan banyak promo dan hadir di setiap merchant sehingga transaksi lebih mudah tanpa harus lintas bank.
“BCA itu hampir ada di setiap merchant jadi pembayarannya lebih mudah kalau mau belanja,” tutupnya.
Membersamai UMKM dengan Digitalisasi
Transformasi digital juga dirasakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satunya Kedai Kopi Sangkar di Jalan Musi Raya, Kecamatan Sako, Palembang.
Sejak berdiri sekitar satu tahun lalu, kedai tersebut telah memanfaatkan mesin Electronic Data Capture (EDC) dari BCA untuk mendukung transaksi non-tunai melalui QRIS.
Pemilik kedai, Rangga Efrizal mengatakan, kehadiran mesin EDC mempermudah pelanggan yang ingin membayar secara digital sekaligus membantu pengelolaan keuangan usaha.
“Dengan mesin EDC ini pembayaran menjadi lebih mudah bagi pelanggan yang menggunakan QRIS,” ujarnya.
Selain mempercepat transaksi, sistem pembayaran digital dinilai membantu pencatatan keuangan karena seluruh transaksi langsung tercatat dan masuk ke rekening usaha.
“Biasanya dalam waktu sekitar 24 jam dana transaksi sudah masuk ke rekening dan pembukuannya juga lebih rapi,” katanya.
Selama menggunakan layanan tersebut, ia mengaku belum mengalami kendala berarti sehingga operasional usaha berjalan lancar.
“BCA ini memang sejak awal sudah membantu dalam digitalisasi,” singkatnya.
Transaksi Digital Terus Bertumbuh
Meningkatnya pemanfaatan layanan digital turut tercermin dari kinerja transaksi elektronik BCA.
Sepanjang 2025, jumlah transaksi mobile banking dan internet banking mencapai 37,5 miliar transaksi atau tumbuh 18,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp32.566 triliun atau meningkat 15,2 persen secara tahunan.
BCA juga mencatat jumlah transaksi mobile dan internet banking meningkat sekitar 4,1 kali lipat dalam lima tahun terakhir, seiring bertambahnya pengguna layanan digital.
Perseroan menilai pertumbuhan tersebut didukung oleh dua aplikasi utama yang memiliki karakter berbeda.
“Kami melihat pengguna mobile banking terus meningkat, didukung oleh dua aplikasi andalan, yaitu BCA Mobile yang populer karena kesederhanaannya dan myBCA yang menawarkan fitur-fitur terkini,” kata Presiden Direktur BCA, Gregory Hendra Lembong dikutip dari laporan akhir tahun 2025.
Meski transformasi digital terus berkembang, BCA tetap mempertahankan layanan kantor cabang sebagai pelengkap kebutuhan transaksi tunai maupun konsultasi secara langsung.
Menurutnya, keseimbangan antara layanan digital dan layanan tatap muka menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga kualitas pelayanan kepada nasabah.
Dukungan tersebut juga diperkuat melalui layanan contact center Halo BCA sebagai garda terdepan komunikasi dengan nasabah.
“Kami ingin memastikan nasabah tetap memperoleh layanan perbankan yang andal melalui berbagai kanal layanan yang tersedia,” ujarnya.
Kinerja Positif Menuai Penghargaan
Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2025 akibat tensi perdagangan internasional, BCA tetap membukukan kinerja positif.
Perseroan mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham sebesar Rp57,5 triliun atau tumbuh 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat pengembalian atas ekuitas (Return on Equity/ROE) mencapai 23,3 persen.
Pertumbuhan dana murah (CASA) juga meningkat 13,1 persen secara tahunan, sementara penyaluran kredit tumbuh 7,7 persen.
Di saat yang sama, biaya operasional tetap terjaga dan volume transaksi perbankan terus mengalami peningkatan di berbagai kanal layanan digital.
Bagi masyarakat maupun pelaku UMKM, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi perbankan tidak hanya menghadirkan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga harus mampu memberikan pengalaman yang sederhana, aman, dan mudah digunakan.
Atas Capaian Kinerja ini, BCA mendapat sejumlah penghargaan mulai dari Forbes untuk kategori World’s Best Bank 2025 in Indonesia, World’s Best Companies 2025, World’s Most Trustworthy Companies 2025 dan World’s Strongest Banking Brand 2025.
Selain itu, Bank Indonesia juga memberikan penghargaan kepada BCA atas Penyedia Jasa Pembayaran Penggerak Konektivitas Pembayaran Digital Terbaik (Bank dan Lembaga Selain Bank). (LWM)

