RELUNG.ID — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI berencana menerbitkan surat utang senilai Rp1 triliun, yang terdiri dari Obligasi sebesar Rp500 miliar dan Sukuk sebesar Rp500 miliar. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memperkuat layanan angkutan barang di wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Executive Vice President Corporate Secretary KAI, Raden Agus Dwinanto Budiadji, menjelaskan bahwa Obligasi tersebut akan diterbitkan dalam dua seri. Seri A memiliki nilai Rp365,13 miliar dengan tingkat bunga tetap 6,90 persen dan tenor 5 tahun. Sementara Seri B senilai Rp134,88 miliar dengan bunga tetap 7,00 persen dan tenor 7 tahun.
“Sementara itu, Sukuk juga akan diterbitkan dalam dua seri, yaitu Seri A dengan jumlah pokok Rp168,57 miliar berjangka waktu 5 tahun, dan Seri B senilai Rp331,44 miliar dengan tenor 7 tahun,” kata Raden Agus dalam keterangannya, Sabtu (8/3/2025).
Dana yang diperoleh dari penerbitan Obligasi Berkelanjutan II ini, setelah dikurangi biaya emisi, akan dialokasikan untuk pembayaran sebagian pengadaan 54 unit lokomotif. Langkah ini diharapkan dapat mendukung pengembangan layanan angkutan barang di Sumatera Bagian Selatan.
Sementara itu, dana dari penerbitan Sukuk akan digunakan untuk pengadaan sarana berupa aset bergerak. KAI menargetkan pengadaan 54 unit lokomotif dan/atau sekitar 966 unit gerbong terbuka yang masih dalam proses pengadaan.
Jika dana yang diperoleh dari penerbitan surat utang ini belum mencukupi, KAI telah menyiapkan langkah alternatif dengan memanfaatkan kas internal atau mencari sumber pendanaan eksternal lainnya.
Penerbitan surat utang ini menjadi bagian dari strategi KAI untuk memperkuat layanan logistik dan mendorong pertumbuhan angkutan barang di wilayah Sumatera. Dengan pengadaan lokomotif dan gerbong baru, KAI berharap dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan transportasi barang di jalur kereta api.
“Investasi ini menjadi bagian dari komitmen KAI dalam mendukung konektivitas dan distribusi logistik nasional, terutama di Sumatera Bagian Selatan. Kami optimis langkah ini akan memberikan dampak positif bagi pengembangan infrastruktur transportasi berbasis rel di Indonesia,” pungkas Raden Agus. [THQ]

