RELUNG.ID — Meski telah memasuki musim kemarau, ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Palembang masih tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang mencatat, perilaku warga yang sering menampung air di wadah terbuka saat kemarau menjadi pemicu berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
“DBD tetap berpotensi meningkat meski di musim kemarau. Kebiasaan menampung air membuat jentik nyamuk lebih mudah berkembang biak. Suhu panas juga membuat nyamuk lebih aktif menggigit,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Palembang, Yudi Setiawan, Rabu (30/7/2025).
Data Dinkes mencatat hingga 24 Juli 2025, ada 53 kasus baru DBD di Palembang. Jumlah ini menambah total kasus sebelumnya, dengan laporan bulanan menunjukkan angka yang cukup tinggi: 80 kasus pada Juni, 65 kasus di Mei, dan 95 kasus di April.
“Kecamatan dengan kasus tertinggi ada di Sukarami sebanyak 66 kasus,” jelas Yudi.
Sebaran kasus juga tercatat di Plaju (62 kasus), Ilir Barat I (52), Jakabaring (39), Ilir Barat II (36), Seberang Ulu I (35), Kertapati (35), Gandus (34), Seberang Ulu II (26), Ilir Timur II (23), Kemuning (21), Alang-alang Lebar (21), Bukit Kecil (18), Ilir Timur I (16), Kalidoni (16), Sako (16), Ilir Timur (11), dan Sematang Borang (11).
Berdasarkan usia, kelompok anak 5-14 tahun menjadi yang paling rentan dengan 290 kasus, diikuti usia 15-44 tahun (149 kasus), 1-4 tahun (79 kasus), di atas 44 tahun (15 kasus), dan bayi di bawah 1 tahun (4 kasus).
Yudi menekankan pentingnya gerakan 3M (Menguras, Menutup, dan Mengubur) sebagai langkah utama pencegahan DBD. Selain itu, masyarakat diimbau memasang kelambu, menggunakan lotion anti nyamuk, serta menghindari menumpuk atau menggantung pakaian terlalu lama.
“Upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) harus dimaksimalkan. Tanpa kepedulian bersama, angka DBD akan sulit ditekan,” pungkasnya.[THQ]

