RELUNG.ID – Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sumatra Selatan (Sumsel) sepanjang awal tahun 2026 menjadi peringatan serius, terutama bagi anak-anak usia sekolah yang kini masuk kategori paling rentan.
Dinas Kesehatan mencatat, sejak Januari hingga Maret 2026 terdapat 723 kasus DBD dengan empat korban meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, wilayah Palembang menjadi penyumbang kasus tertinggi dengan 268 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, mengungkapkan bahwa tren peningkatan kasus ini berkaitan erat dengan musim penghujan yang menciptakan banyak genangan air—habitat ideal bagi nyamuk penyebab DBD.
“Peran aktif masyarakat sangat penting, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan untuk memutus rantai penularan,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Ira menyebutkan tak hanya Palembang, kasus DBD juga menyebar di hampir seluruh daerah, seperti Ogan Ilir (66 kasus), Lubuklinggau (59 kasus), Banyuasin (55 kasus), hingga Muara Enim (53 kasus). Data menunjukkan fakta mengkhawatirkan yakni dalam tujuh tahun terakhir, 41 persen kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 5 hingga 14 tahun. Kondisi ini mendorong pemerintah mempercepat langkah pencegahan berbasis kelompok usia.
“Salah satunya melalui program vaksinasi dengue yang menggandeng Universitas Sriwijaya. Program ini menyasar 7.500 siswa sekolah dasar di Palembang, dengan 5.000 anak telah menerima vaksin. Langkah ini menjadi bagian dari target ambisius pemerintah untuk mencapai Zero Dengue Death pada 2030,”kata dia.
Selain vaksinasi, Dinkes juga memperkuat edukasi pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air, ditambah langkah pencegahan lain. Upaya inovatif juga dilakukan melalui pengembangan metode wolbachia, yang terbukti mampu menekan angka kesakitan hingga 77 persen dan menurunkan tingkat rawat inap hingga 86 persen.
“Pengendalian tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama,” tegas Ira.[THQ]

