RELUNG.ID- Pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1/2026) lalu membawa lebih dari sekadar awak dan penumpang.
Di dalamnya terdapat Florencia Lolita Wibisono alias Olen, seorang pramugari yang dikenal keluarga sebagai pribadi berintegritas dan oleh rekan-rekannya dianggap sebagai panutan dalam bekerja.
Jenazah Olen baru berhasil dievakuasi pada hari keempat pencarian, Rabu (21/1/2026), akibat cuaca buruk dan medan yang sulit dijangkau. Sehari berselang, jenazah disemayamkan di rumah duka Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara, Kamis (22/1/2026).
Kakak korban, Natasya Wibisono, mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir dengan sang adik terjadi satu hari sebelum kecelakaan melalui panggilan video. Saat itu, Natasya tengah berada di dalam pesawat yang mengalami keterlambatan keberangkatan.
“Dia video call saya sore itu. Dia tanya, ‘Kakak di mana?’. Saya jawab lagi delay di pesawat, belum diturunin,” ujar Natasya saat ditemui di rumah duka.
Dalam percakapan tersebut, Olen sempat menanyakan kru pesawat yang ditumpangi kakaknya, mengingat ia pernah bekerja di maskapai yang sama. Bahkan, Olen sempat berbincang singkat dengan kru pesawat melalui sambungan video call tersebut.
“Itu jadi komunikasi terakhir kami,” ucap Natasya dengan suara lirih.
Keesokan harinya, Natasya menerima kabar bahwa pesawat yang ditumpangi Olen hilang kontak. Informasi tersebut pertama kali disampaikan oleh calon suami Olen saat Natasya masih berada di Sibolga, Sumatera Utara.
“Tiba-tiba saya dapat kabar pesawat adik saya sudah hampir satu jam hilang kontak,” katanya.
Natasya kemudian memastikan kebenaran kabar tersebut dengan menghubungi sejumlah rekannya yang bekerja sebagai pilot dan di Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU). Setelah memastikan informasi tersebut benar, ia segera berusaha kembali ke Jakarta dan Makassar untuk bergabung dengan keluarga.
Karena keterbatasan jadwal penerbangan dari Sibolga, Natasya memilih menempuh perjalanan darat menuju Medan sebelum melanjutkan penerbangan ke Jakarta dan Makassar.
Setibanya di Makassar, pencarian telah memasuki hari kedua dan keluarga belum memperoleh kabar pasti mengenai kondisi Olen. Hingga akhirnya, jenazah Olen berhasil ditemukan dan dievakuasi.
Di mata keluarga, Olen dikenal sebagai sosok ceria, penyayang, dan gemar membantu orang lain. Ia baru sekitar tiga bulan bekerja di Indonesia Air Transport dan kerap membagikan cerita kebahagiaannya kepada keluarga.
“Hampir setiap hari dia hubungi saya. Dia cerita betapa bahagianya bekerja di sana, ketemu banyak orang baik. Perubahannya sangat terasa,” tutur Natasya.
Hal senada disampaikan kakak ipar korban, Felix Agoes. Menurutnya, Olen berada dalam fase hidup yang bahagia dalam beberapa bulan terakhir.
“Cara meninggalnya memang tragis, tapi cara hidupnya Olen jauh lebih layak untuk dikenang,” ujarnya.
Rekan kerja Olen juga mengenangnya sebagai sosok instruktur yang sabar dan menjadi panutan. Salah satunya, Dita, yang mengenal Olen sejak bekerja di Wings Air pada 2016.
“Mbak Florencia itu instruktur yang sangat lemah lembut, enggak pernah marah. Jadi role model buat kami,” kata Dita.
Jenazah Olen rencananya akan dimakamkan di Tondano, Sulawesi Utara, pada Sabtu (24/1/2026). Lokasi tersebut dipilih karena Olen menghabiskan cukup lama masa hidupnya di sana. Setelah disemayamkan di Jakarta, jenazah dijadwalkan diterbangkan ke Sulawesi Utara menggunakan penerbangan kargo.
Di tengah duka mendalam, keluarga berharap seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 dapat segera ditemukan dan dipulangkan kepada keluarga masing-masing.[YKP]

