RELUNG.ID – Musim kemarau yang berlangsung di Sumatera Selatan tidak sepenuhnya menjadi hambatan bagi produksi gabah petani.
Di sejumlah kawasan yang memiliki lahan rawa lebak, kondisi lahan yang mulai mengering justru membuka peluang bagi petani untuk kembali bercocok tanam.
Fenomena tersebut turut menopang kegiatan pengadaan gabah Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel).
Hingga Agustus 2026, Bulog mencatat penyerapan gabah petani telah mencapai 127 ton atau sekitar 73 persen dari target 172 ton.
Pimpinan Bulog Kanwil Sumsel Babel, Ihsan, mengatakan proses penyerapan terus dilakukan untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus memastikan produksi petani mendapatkan pasar.
“Kita itu untuk penyerapan gabah sudah 127 ton dari 172 ton, jadi sekitar 73 persen. Dengan ini saja, dengan segitu ini kita sebenarnya sudah banyak,” kata dia, Sabtu (29/8/2026).
Meski realisasi pengadaan telah mencapai sebagian besar target, Bulog memastikan kegiatan tersebut tidak berhenti. Penyerapan tetap akan dilakukan hingga akhir tahun selama harga gabah di tingkat petani memenuhi ketentuan harga pemerintah.
“Pengadaan itu tidak ada henti. Sampai akhir tahun kita tetap mengadakan pengadaan kalau memang harga itu masuk dengan harga pemerintah,” jelasnya.
Menariknya, kemarau dan fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu sektor pertanian tidak selalu memberikan dampak negatif bagi seluruh wilayah Sumsel.
Ihsan mengatakan karakteristik lahan pertanian Sumsel yang banyak berupa rawa lebak membuat sebagian petani justru mendapatkan kesempatan menanam ketika permukaan air mulai surut.
Lahan yang sebelumnya tergenang dapat mengering sehingga lebih mudah diolah dan kembali ditanami.
“Dengan keringnya lahan lebak, lahan lebak kita jadi kering, bisa ditanam. Kalau kita lihat kan banyak sawah-sawah rawa lebak itu kan sudah ditanam,” tutupnya. (THQ)

