RELUNG.ID – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, belum sepenuhnya pulih dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 bahkan sempat menembus level berbahaya pada Sabtu (12/9/2026) dini hari.
Berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 325,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 03.00 WIB. Angka tersebut berada pada kategori hitam atau berbahaya.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara Palembang masih belum mengalami pemulihan. Meski konsentrasi partikulat kemudian turun, kondisi udara tetap perlu diwaspadai.
“Kualitas udara Palembang masih belum membaik. Meskipun konsentrasi partikulat halus mengalami penurunan setelah mencapai titik tertinggi pada dini hari, kualitas udara masih berada pada kategori yang perlu diwaspadai pada pagi ini,” ujarnya, Sabtu, (11/9/2026).
Memasuki pukul 04.00 WIB, konsentrasi PM2.5 memang mengalami penurunan cukup signifikan menjadi 171,5 µg/m³. Namun, kondisi tersebut masih masuk kategori merah atau sangat tidak sehat.
Penurunan berlanjut pada pukul 05.00 WIB dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 164,7 µg/m³. Kendati angkanya lebih rendah dibandingkan dini hari, status kualitas udara belum berubah dari kategori sangat tidak sehat.
“Tetapi status kualitas udara masih berada pada kategori merah atau sangat tidak sehat,” katanya.
Konsentrasi PM2.5 kembali menurun ketika pagi mulai berlangsung. Namun, penurunan tersebut belum cukup untuk membuat kualitas udara Palembang berada pada kondisi sehat.
Dirinya menjelaskan hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2.5 pada pagi hari berada di kisaran 132,7 hingga 148,5 µg/m³. Angka tersebut masih berada pada kategori kuning atau tidak sehat.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa turunnya konsentrasi PM2.5 dari level berbahaya bukan berarti masyarakat sudah dapat beraktivitas di luar ruangan tanpa kewaspadaan,”kata dia.
Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat tetap memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Penggunaan masker juga dianjurkan, terutama ketika harus berada di ruang terbuka.
Termasuu kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia diminta mendapat perhatian lebih. Begitu pula masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan.
“Masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan. Sebaiknya tetap menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan,” tutupnya. (THQ)

