RELUNG.ID – Salah satu peristiwa besar yang terjadi saat bulan suci Ramadan yakni peristiwa turunnya Al-Qur’an atau Nuzulul Qur’an. Peristiwa ini menjadi yang paling agung lantaran Al-Qur’an menjadi pedoman hidup bagi seluruh manusia.
“Alhamdulillah, di bulan Ramadan ini ada banyak sekali keutamaan dan hikmah. Salah satunya adalah malam turunnya Al-Qur’an yang kita kenal dengan Nuzulul Qur’an,” ujar Ketua PW Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Sumatera Selatan, Taufik Saiman SAg saat menyampaikan tausyiahnya dalam program Kultum dari Relung yang disiarkan di berbagai platform Relung Media, Jumat (6/3/2026).
Ia menyampaikan bahwa terdapat berbagai riwayat mengenai tanggal turunnya Al-Qur’an, ada yang menyebut tanggal 17 Ramadan, ada pula sebelum atau sesudahnya. Namun menurutnya, yang terpenting bukanlah tanggalnya, melainkan hikmah besar dari turunnya kitab suci tersebut.
“Yang paling penting bukan tanggalnya, tetapi bahwa Allah memberikan mukjizat luar biasa kepada umat Nabi Muhammad SAW, yaitu Al-Qur’an,” jelasnya.
Taufik Saiman kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 185 yang menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang salah.
Menurutnya, Al-Qur’an bukan hanya menjadi pedoman bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh umat manusia.
“Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia. Artinya bukan hanya untuk orang beriman saja, tetapi untuk seluruh manusia di muka bumi,” katanya.
Ia menambahkan, siapa pun yang mempelajari Al-Qur’an akan mendapatkan banyak pelajaran, bahkan dalam berbagai bidang kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, kepemimpinan hingga ilmu pengetahuan.
“Dalam Al-Qur’an ada prinsip ekonomi yang berkeadilan, ada konsep pendidikan yang tidak hanya mendidik akal, tetapi juga hati dan mental manusia,” ujarnya.
Bahkan, lanjutnya, banyak ilmuwan yang menemukan fakta ilmiah yang ternyata telah dijelaskan dalam Al-Qur’an sejak berabad-abad lalu.
Ia mencontohkan kisah seorang profesor ahli kelautan yang menemukan fenomena dua laut yang tidak bercampur meskipun bertemu. Penemuan tersebut kemudian diketahui telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rahman.
“Ketika ia membaca ayat tersebut, ia sangat terkejut karena Al-Qur’an sudah menjelaskan hal itu sejak lebih dari 14 abad lalu. Dari situlah akhirnya ia semakin mendalami Al-Qur’an dan mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam,” tuturnya.
Melalui kultum tersebut, Taufik Saiman mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an, baik dengan membaca, memahami, maupun mengamalkan isi kandungannya.
“Semoga kita termasuk orang-orang yang bukan hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (KPB)

