RELUNG.ID – Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan sebuah proses untuk membenahi hati.
Hal ini diungkapkan Ustadz Prof Dr dr H Yuwono M. Biomed saat menyampaikan tausiyahnya dalam program Kultum dari Relung yang ditayangkan di kanal medias sosial, Senin sore (23/2/2026)
Ia mengawali dengan mengutip sabda Nabi Muhammad SAW tentang banyaknya orang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Menurutnya, kondisi itu terjadi karena puasa hanya menyentuh aspek lahiriah atau jasad, belum menyentuh batin.
“Penentu puasa itu hati. Ujung dari puasa adalah takwa. Dan takwa tempatnya di hati,” ujar Yuwono dalam ceramahnya.
Ia menjelaskan, hati merupakan pusat keimanan, keikhlasan, dan ketakwaan seseorang. Apa yang diyakini dan diniatkan manusia bermula dari hati. Karena itu, kualitas ibadah sangat ditentukan oleh kondisi hati.
Selain sebagai tempat iman, hati juga berfungsi sebagai pusat pengambilan keputusan. Segala tindakan, kata Yuwono, lahir dari keputusan hati. Jika hati baik, keputusan yang diambil pun cenderung baik.
“Hati adalah penopang kebaikan seseorang. Kalau hatinya baik, maka baik pula perilakunya,” katanya.
Ia menambahkan, hati juga menentukan bagaimana seseorang menjalani hidup. Orang dengan hati yang sehat akan tetap merasakan ketenangan, baik dalam keadaan senang maupun susah, kaya atau miskin.
Dalam kajiannya, Yuwono membagi kondisi hati menjadi tiga. Pertama, hati yang sakit atau dalam istilah ulama disebut qolbun maridh. Ciri-cirinya, seseorang masih cenderung kepada keburukan, meski kadang menerima kebaikan dan masih bisa diingatkan.
Kedua, hati yang mati. Kondisi ini terjadi pada orang yang tidak lagi beriman dan tidak dapat menerima nasihat.
Ketiga, hati yang sehat atau qolbun salim. Inilah kondisi terbaik. Pemilik hati yang bersih akan merasakan kebahagiaan dalam berbagai keadaan hidup.
Yuwono lalu mengulas penyebab hati menjadi sakit. Ia menyebutkan, terlalu banyak berbicara hal yang tidak bermanfaat menjadi salah satu faktor utama. Ia kembali mengingatkan pesan Rasulullah agar berkata baik atau diam.
Selain itu, berlebihan dalam makan dan bermewah-mewahan juga dapat mengeraskan hati. Begitu pula kebiasaan melihat dan mendengar hal-hal sia-sia dan buruk.
“Pendengaran dan penglihatan itu pintu hati. Kalau yang masuk buruk, hati akan sakit,” ujarnya.
Lingkungan pergaulan juga berpengaruh besar. Berteman dengan orang yang buruk akhlaknya, kata dia, dapat menyeret seseorang pada keburukan hati.
Meski demikian, ia menegaskan tidak ada penyakit tanpa obat. Hati yang sakit dapat disembuhkan dengan amalan yang konsisten.
Obat pertama dan paling utama adalah tilawah serta memahami Alquran. Ia menyebut Alquran sebagai penawar paling mujarab bagi hati yang gelisah dan kotor.
Kedua, memperbanyak zikir atau mengingat Allah. Ketiga, menghidupkan malam dengan salat tahajud, tarawih, dan witir. Keempat, memilih lingkungan pergaulan yang baik.
“Ibarat berteman dengan pedagang minyak wangi, kita akan ikut harum,” katanya.
Tonton Selengkapnya di Kanal Digital Relung Media:
Saksikan ceramah lengkap Ustadz Prof Dr dr Yowono Biomed dalam program Kultum dari Relung melalui kanal resmi Relung Media Group:
YouTube: https://youtu.be/oRjUfg8qwdk
Instagram: https://www.instagram.com/reels/DVGKnKNlIR7/
TikTok: https://www.tiktok.com/@relung.id/video/7608840350240673025
Facebook: https://facebook.com/reel/1661384638363146/
Program Kultum dari Relung hadir setiap hari menjelang berbuka puasa selama Ramadan 1447 H/2026 M, menghadirkan ulama, akademisi, dan tokoh agama untuk menemani perjalanan spiritual masyarakat Sumatera Selatan. (KPB)

