RELUNG.ID- Beragam cara dilakukan masyarakat di Kota Lubuklinggau untuk menunggu waktu berbuka puasa di bulan suci Ramadan.
Selain berburu takjil atau bersantai bersama keluarga, sebagian warga memilih ngabuburit dengan menyaksikan kawanan monyet liar yang turun dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Bukit Sulap.
Kawanan monyet tersebut kerap terlihat turun ke pinggir jalan di belakang Kantor Dinas Pariwisata Lubuklinggau setiap sore hari. Fenomena ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengendara yang melintas di kawasan tersebut.
Tak heran, lokasi itu selalu ramai dikunjungi warga, terutama menjelang waktu berbuka puasa. Banyak pengendara yang sengaja memperlambat laju kendaraan untuk melihat dari dekat, bahkan ada yang sengaja datang bersama keluarga untuk menyaksikan langsung tingkah laku satwa liar tersebut.
Beberapa pengunjung juga terlihat membawa makanan untuk diberikan kepada monyet-monyet tersebut.
“Setiap sore kawanan monyet secara berkumpul biasanya turun dari perbukitan untuk mencari makan,” ujar Edi Susanto, salah satu warga yang datang bersama anaknya, Senin (23/2/2026).
Menurut Edi, turunnya monyet dari atas bukit menjadi hiburan tersendiri bagi warga yang sedang ngabuburit. Ia menambahkan, semakin banyak pengunjung yang memberi makan, maka semakin banyak pula monyet yang mendekat ke area pinggir jalan.
Hal senada disampaikan Nasrullah, warga lainnya yang turut mampir ke lokasi. Ia menjelaskan bahwa monyet-monyet tersebut merupakan satwa liar yang memang hidup dan berkembang biak di kawasan hutan TNKS Bukit Sulap.
“Monyet itu satwa liar. Namun karena sering diberi makan oleh pengunjung yang datang untuk ngabuburit, satwa tersebut kini semakin terbiasa mendekati manusia,” ungkapnya.
Meski menjadi tontonan menarik, masyarakat tetap diimbau untuk berhati-hati dan tidak terlalu dekat saat berinteraksi dengan monyet liar. Hal itu guna menghindari risiko gigitan, cakaran, maupun potensi gangguan lainnya.
Fenomena unik ini menjadi warna tersendiri dalam suasana Ramadan di Lubuklinggau. Namun di balik keseruannya, warga diharapkan tetap menjaga keselamatan serta tidak mengganggu habitat alami satwa liar tersebut.[NSR]

