RELUNG.ID – Samsung Electronics mencatatkan lonjakan kinerja keuangan pada kuartal III 2026 di tengah meningkatnya permintaan cip memori untuk mendukung perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Namun, di balik capaian tersebut, divisi ponsel pintar Samsung dikabarkan bersiap memangkas produksi hingga 30 persen pada kuartal berikutnya.
Dalam perkiraan kinerja keuangan terbarunya, Samsung melaporkan penjualan konsolidasi sekitar 195 triliun won Korea Selatan (KRW) atau setara US$145,33 miliar untuk periode Juli hingga September 2026.
Sementara itu, laba operasional konsolidasi diperkirakan mencapai 107,40 triliun won atau sekitar US$80 miliar.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan kuartal II 2026, ketika Samsung membukukan penjualan konsolidasi sebesar 171,5 triliun won atau US$127,78 miliar. Pada periode yang sama, laba operasional perusahaan tercatat sebesar 89,49 triliun won atau US$66,68 miliar.
Jika dibandingkan dengan kuartal III 2025, pertumbuhan kinerja Samsung terlihat jauh lebih besar. Saat itu, perusahaan mencatat penjualan sebesar 86,06 triliun won dengan laba operasional 12,17 triliun won.
Dengan demikian, berdasarkan angka perkiraan tersebut, penjualan Samsung pada kuartal III 2026 meningkat sekitar 126,6 persen secara tahunan. Sementara itu, laba operasionalnya melonjak sekitar 782,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan tersebut memperlihatkan besarnya kontribusi bisnis semikonduktor di tengah meningkatnya kebutuhan cip memori untuk pusat data AI dan berbagai infrastruktur komputasi berperforma tinggi.
Di tengah kinerja keuangan yang menguat, bisnis ponsel pintar Samsung justru menghadapi tantangan akibat kenaikan harga komponen.
Sejumlah laporan media Korea Selatan menyebutkan bahwa divisi Mobile eXperience (MX) Samsung mulai mempertimbangkan pengurangan produksi ponsel pintar untuk kuartal IV 2026. Pemangkasan tersebut dikabarkan dapat mencapai 30 persen.
Langkah ini disebut berkaitan dengan meningkatnya biaya pengadaan memori dan semikonduktor yang digunakan dalam perangkat ponsel.
Seorang sumber industri menyebutkan bahwa kenaikan harga komponen membuat penjualan ponsel Samsung semakin sulit menghasilkan keuntungan. Namun, informasi mengenai pemangkasan produksi tersebut masih berdasarkan laporan media dan belum menjadi pengumuman resmi perusahaan dalam keterangan yang tersedia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lonjakan permintaan cip untuk AI dapat memberikan keuntungan besar bagi bisnis semikonduktor, tetapi pada saat bersamaan meningkatkan beban biaya bagi produsen perangkat elektronik yang membutuhkan komponen tersebut.
Perkembangan bisnis Samsung pada kuartal III 2026 memperlihatkan perbedaan kondisi di antara lini usahanya. Permintaan cip memori yang meningkat mendorong kinerja keuangan perusahaan, sedangkan kenaikan harga komponen berpotensi menekan margin keuntungan bisnis ponsel pintar.
Jika biaya produksi terus meningkat, Samsung perlu menyesuaikan strategi pengadaan komponen, volume produksi, dan harga jual perangkat agar tetap kompetitif di pasar global.
Meski demikian, besarnya potensi pengurangan produksi ponsel pada kuartal IV 2026 masih perlu dikonfirmasi melalui pernyataan resmi Samsung. Perkembangan harga memori dan permintaan konsumen akan menjadi faktor penting yang menentukan kinerja bisnis ponsel perusahaan pada akhir tahun ini. (LWM)

