RELUNG.ID – Upaya melestarikan sejarah dan kebudayaan lokal terus dilakukan kalangan akademisi.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sriwijaya (Unsri) menggelar pelatihan bagi guru sejarah di SMAN 1 Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir (OI).
Pelatihan ini mengangkat sejarah seni pertunjukan Dulmuluk sebagai materi pembelajaran berbasis sejarah lokal.
Akademisi FKIP Unsri, Dedi Irwanto mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas guru sejarah dalam memanfaatkan kebebasan yang diberikan kurikulum berdampak untuk mengembangkan materi sejarah lokal di sekolah.
“Sejarah Dulmuluk memiliki nilai penting yang selama ini belum banyak diketahui, baik oleh masyarakat maupun para pendidik,” katanya.
Dulmuluk berkembang di Palembang pada awal abad ke-20, seiring munculnya berbagai kegiatan hiburan yang digelar pemerintah kolonial untuk meramaikan kota.
Inspirasi dari pertunjukan Komedi Stamboel asal Singapura kemudian melahirkan kelompok Abdulmoeloek-theater yang dipimpin Wak Nang Nong.
“Pada tahun 1910, Wak Nang Nong mengubah Syair Abdulmuluk dari tradisi lisan menjadi pertunjukan teater dengan pakem yang lebih terstruktur. Dari sanalah lahir kelompok Abdulmoeloek-theater yang kemudian mencapai masa kejayaannya,” ujar Dedi.
Pementasan perdana kelompok tersebut berlangsung pada 16–22 April 1910 di Guguk Tanggo Takat, sebelum akhirnya tampil dalam berbagai agenda penting, termasuk perayaan Koninginnedag pada 31 Agustus 1910 dan sejumlah pertunjukan di Gedung Societiet Palembang.
Penelitian yang dilakukannya juga menemukan bahwa kelompok Abdulmoeloek mendapat apresiasi luas dari masyarakat hingga diliput media kolonial.
Bahkan, Wak Nang Nong disebut sebagai “Toean Nang Nong, Abdulmoeloek-theater Directeur” dalam pemberitaan surat kabar Belanda saat itu.
Sementara itu, Akadamisi, Prof Farida mengungkapkan, keprihatinannya terhadap semakin berkurangnya eksistensi Dulmuluk di tengah masyarakat.
Ia mengenang, pada era 1960 hingga 1970-an, Dulmuluk menjadi hiburan utama dalam berbagai pesta pernikahan masyarakat.
Namun kini, pertunjukan tersebut lebih banyak tampil pada acara-acara seremonial sehingga semakin jauh dari kehidupan generasi muda.
“Kondisi ini menjadi tanggung jawab bersama agar seni Dulmuluk kembali dikenal dan dipelajari oleh generasi muda melalui dunia pendidikan,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, tim FKIP Unsri mengembangkan media pembelajaran berbasis E-Comic yang mengangkat sejarah Dulmuluk.
Media tersebut diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran sejarah lokal yang lebih menarik dan sesuai dengan karakter peserta didik masa kini. (DSK)

