RELUNG.ID – Sebuah video yang diunggah akun TikTok @empatkawangkiri sontak menjadi viral.
Pasalnya, unggahan tersebut menyoroti pembangunan di Kabupaten Empat Lawang yang dinilai masih minim diusianya yang ke-19 tahun. Mulai dari sektor kesehatan hingga sektor pendidikan.
Dalam video berdurasi 4 menit 53 detik ini, dibuka dengan perkenalan diri narator bernama Ivan Fransisco yang merupakan putra asli Empat Lawang.
“Saya putra asli kabupaten Empat Lawang, lahir dan dibesarkan di Empat Lawang,” katanya dalam video tersebut.
Dia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan kabupaten itu. Bahkan, usia dirinya hanya terpaut empat hari dari usia berdirinya Kabupaten Empat Lawang yang resmi terbentuk pada 20 April 2007.
Ivan menilai masih banyak persoalan mendasar yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, mulai dari infrastruktur, keamanan, pendidikan hingga lapangan pekerjaan.
“Di usia yang ke-19 tahun, kita perlu bertanya apa yang sudah benar-benar diraih untuk masyarakat,” ujarnya.
Selama ini dirinya aktif berkontribusi untuk daerah. Ia pernah menjadi duta pariwisata Kabupaten Empat Lawang pada 2023 dan mewakili daerah dalam berbagai ajang tingkat Sumatera Selatan.
Selain itu, ia juga aktif dalam organisasi kepemudaan serta membangun komunitas literasi bernama Perpustakaan Jalanan Pendopo guna meningkatkan minat baca masyarakat.
Menurutnya, komunitas tersebut dibentuk sebagai upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui pendidikan nonformal, terutama bagi anak-anak dan remaja yang tidak memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi.
“Kami ingin menghadirkan ruang belajar dan berbagi pengetahuan bagi teman-teman yang tidak bisa kuliah. Pendidikan tidak hanya didapat dari bangku formal,” katanya.
Di sisi lain, Ivan juga menyoroti sejumlah pengalaman pribadi yang menurutnya menggambarkan masih lemahnya pelayanan publik dan kondisi sosial di daerah.
Ia mengaku pernah mengalami kecelakaan akibat jalan berlubang, serta kehilangan sepeda motor di rumahnya sendiri. Menurutnya, hal itu menunjukkan masih kurangnya rasa aman yang dirasakan masyarakat.
“Empat Lawang harus mampu menciptakan ruang aman bagi masyarakatnya,” tegasnya.
Tak hanya itu, Ivan juga menyinggung persoalan ekonomi dan minimnya lapangan pekerjaan yang membuat banyak masyarakat kesulitan membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Ia mengungkapkan, orang tuanya harus bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) demi membiayai kuliahnya. Kondisi serupa, menurutnya, juga dialami banyak keluarga lain di Empat Lawang.
“Banyak teman-teman saya tidak melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomi. Salah satu penyebabnya karena minimnya lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Ivan berharap pemerintah daerah lebih serius memperhatikan kebutuhan masyarakat, bukan hanya menjadikan masyarakat sebagai objek politik semata.
Ia juga mengingatkan bahwa Empat Lawang masih menjadi salah satu daerah dengan IPM rendah di Sumatera Selatan, sehingga diperlukan langkah nyata dalam sektor pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Melalui segmen yang ia buat bertajuk “Reset Empat Lawang”, Ivan menegaskan kritik yang disampaikannya bukan bentuk kebencian terhadap tanah kelahirannya, melainkan dorongan agar daerah tersebut dapat berkembang lebih baik di masa depan.
“Kita punya sumber daya manusia yang baik, sumber daya alam yang luar biasa, dan posisi geografis yang strategis. Tinggal bagaimana daerah ini dikelola dengan baik demi kepentingan masyarakat,” pungkasnya. (LWM)

