RELUNG.ID- Suasana menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia kembali terasa di sejumlah sudut Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Salah satu yang paling mudah ditemui adalah Telok Abang. Setiap memasuki bulan Agustus, pedagang Telok Abang kembali memenuhi kawasan Jalan Merdeka dan sejumlah ruas jalan lainnya di Kota Palembang.
Telok Abang merupakan tradisi khas Palembang yang identik dengan perayaan 17 Agustus. Bentuknya sederhana, yakni telur rebus yang kulitnya dicat merah dan biasanya dipadukan dengan miniatur kapal, pesawat atau kendaraan berbahan gabus.
Tradisi tersebut menjadi pemandangan khas yang hanya muncul pada momentum tertentu, terutama menjelang perayaan Hari Kemerdekaan.
Budayawan Kota Palembang, Vebri Al Lintani, mengatakan Telok Abang dan miniatur kapal berbahan gabus telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Palembang dalam memeriahkan Hari Kemerdekaan.
“Telur itu direbus dan kulitnya dicat berwarna merah, khusus untuk Kemerdekaan Indonesia. Telok Abang tetap menjadi tradisi,” kata Vebri, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, Telok Abang memiliki keunikan tersendiri karena tradisi tersebut identik dengan Kota Palembang.
“Yang pasti, kapal Telok Abang ini cuma ada di Palembang, baik di Sumsel maupun di Indonesia, untuk perayaan Kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.
Vebri menyebut Telok Abang kini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu suvenir khas Palembang.
Kemunculan pedagang Telok Abang setiap Agustus juga menjadi peluang bagi masyarakat yang menjalankan usaha musiman.
Fredi (43), salah seorang pedagang di kawasan Jalan Merdeka, mengaku sudah sekitar sembilan tahun berjualan Telok Abang dan berbagai pernak-pernik khas Agustusan.
Selain Telok Abang, ia menjual telok ukan, telok pindang, ketan capit hingga miniatur pesawat dan kapal berbahan gabus.
Menurut Fredi, pembeli mulai ramai beberapa hari menjelang peringatan HUT Kemerdekaan.
“Lumayan, Pak, berguyur. Untuk harganya Rp25.000 sampai Rp30.000, sudah plus Telok Abang,” ujar Fredi.
Pedagang lainnya, Rudi dan Fendi, juga mengaku Telok Abang masih memiliki peminat tersendiri.
Menurut mereka, masyarakat tetap mencari Telok Abang karena makanan sekaligus suvenir tersebut memiliki nilai tradisi dan biasanya hanya mudah ditemukan saat momentum perayaan Kemerdekaan.
Harga yang relatif terjangkau juga membuat Telok Abang tetap diminati berbagai kalangan.
Bagi masyarakat Palembang, Telok Abang bukan sekadar telur rebus yang dicat merah maupun miniatur sederhana berbahan gabus.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Palembang saat menyambut Hari Kemerdekaan.
Kehadiran Telok Abang setiap Agustus juga menunjukkan bagaimana tradisi lama masih mampu bertahan di tengah perkembangan kota.
Jalan Merdeka yang kini menjadi salah satu kawasan penting di pusat Kota Palembang kembali menjadi ruang bertemunya pedagang, warga dan tradisi menjelang 17 Agustus.
Kawasan tersebut sendiri memiliki sejarah panjang. Jalan Merdeka disebut pernah menjadi bagian dari aliran sungai yang kemudian ditimbun dan diubah menjadi jalan pada masa kolonial Belanda.
Kini, setiap bulan Agustus, kawasan itu kembali memiliki suasana khas. Pedagang Telok Abang bermunculan, sementara warga berburu telur merah dan miniatur kapal atau pesawat untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan.
Di tengah kesederhanaannya, Telok Abang menjadi pengingat bahwa perayaan kemerdekaan di Palembang memiliki tradisi khas yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.[YKP]

