RELUNG.ID – Di sebuah lorong kecil di Jalan Pangeran Sido Ing Lautan, Lorong Palang Merah Indonesia (PMI), Kelurahan 35 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II Palembang lahirlah sebuah perahu Bidar Tatang Putra.
Perahu tersebut tentunya tidak asing lagi karena hampir setiap tahun menjadi langganan juara bidar dan dikenal sebagai salah satu pesaing terkuat dilintasan.
Perlombaan bidar sendiri bukan sekadar adu cepat mendayung. Tradisi yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu itu menjadi bagian dari identitas masyarakat Palembang, terutama mereka yang bermukim di sepanjang Sungai Musi.
Hingga kini, Pemerintah Kota Palembang terus melestarikannya melalui perlombaan rutin pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Kota Palembang.
Dalam setiap perlombaan, sebuah perahu bidar sepanjang 24 meter diisi oleh 56 orang, terdiri dari 55 pendayung dan seorang juragan yang bertugas mengatur ritme sekaligus membakar semangat para atlet. Mereka berpacu dari kawasan Jembatan Musi VI hingga garis akhir di depan Benteng Kuto Besak.
Di balik perahu yang melaju cepat membelah Sungai Musi, tersimpan proses panjang yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Abdul Gopar (73), pengrajin senior Bidar Tatang Putra, telah puluhan tahun mengabdikan diri membuat perahu tradisional tersebut. Baginya, membangun sebuah bidar bukan hanya soal menyusun kayu, tetapi juga menjaga warisan budaya Palembang.
Untuk membuat satu perahu, dibutuhkan sekitar satu meter kubik kayu jenis Merawan Serumpun yang didatangkan dari Lubuklinggau. Proses pengerjaan memakan waktu sekitar satu bulan hingga perahu siap dicat dan digunakan.
“Empat orang tukang dari Pedamaran, OKI, mengerjakan satu bidar sampai selesai,” ujar Gopar.
Nama Tatang Putra diambil dari nama Kampung Tatang di Kelurahan 35 Ilir. Nama itu kini identik dengan prestasi. Tahun demi tahun, bidar tersebut selalu menjadi kandidat juara. Bahkan pada perlombaan tahun lalu, Tatang Putra berhasil merebut posisi pertama.
Menurut Gopar, rival terbesar mereka selama ini adalah perahu bidar asal Pemulutan.
“Kalau bertemu Bidar Pemulutan selalu seru. Tapi Alhamdulillah, Tatang Putra sudah beberapa kali menjadi juara pertama,” katanya sambil tersenyum.
Membangun sebuah bidar juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Nilainya mencapai puluhan juta rupiah. Dana tersebut biasanya berasal dari sponsor yang ingin mendukung tim saat berlaga.
Berbagai instansi pernah menjadi sponsor Bidar Tatang Putra, mulai dari Pertamina, PT Pusri, hingga sejumlah organisasi pemerintah. Tahun ini, dukungan datang dari Dinas Perhubungan Kota Palembang.
Seluruh pendayung yang memperkuat Tatang Putra berasal dari Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Masing-masing menerima honor sebesar Rp250 ribu setelah perlombaan selesai.
Di balik layar, kepemilikan Bidar Tatang Putra juga menyimpan kisah turun-temurun. Saat ini perahu tersebut dimiliki Jaka, seorang anggota Polri yang bertugas di Polsek Seberang Ulu II Palembang. Kepemilikan bidar diwariskan dari generasi ke generasi dalam keluarganya.
Menariknya, perahu ini tidak digunakan setiap hari. Bidar hanya diturunkan ke Sungai Musi menjelang perlombaan besar atau ketika ada pihak yang ingin menggunakannya.
Prosesi penurunannya pun tidak dilakukan sembarangan. Sehari sebelum lomba, keluarga dan tim menggelar doa bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon keselamatan selama perlombaan.
Empat ekor ayam kampung dan nasi ketan menjadi bagian dari tradisi yang telah diwariskan sejak lama.
“Bukan sekadar tradisi, ini bentuk doa supaya semua diberi keselamatan saat berlomba,” tutur Gopar.
Semangat yang sama juga dirasakan Abdul Rahman Rustam, juragan Bidar Tatang Putra. Sejak peringatan HUT RI ke-53, ia selalu berdiri di bagian belakang perahu, mengatur irama dan membakar semangat puluhan pendayung yang mengayuh sekuat tenaga.
Baginya, menjadi juragan bukan hanya soal memimpin di lintasan, tetapi juga menjaga nama besar Tatang Putra.
“Insya Allah tahun ini ikut lagi. Tahun lalu kami juara, semoga tahun ini bisa mempertahankan gelar,” ujarnya penuh optimistis.
Prestasi tahun lalu memang menjadi kebanggaan tersendiri. Selain membawa pulang piala, tim Tatang Putra juga memperoleh uang pembinaan sebesar Rp25 juta. Hadiah itu kemudian dibagikan secara merata kepada seluruh pendayung, ditambah honor yang telah disiapkan sponsor.
Namun, bagi para pengrajin dan pendayung, kemenangan bukanlah satu-satunya tujuan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan tradisi bidar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (FZP)

