RELUNG.ID- Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan agar Indonesia tidak mengulangi kesalahan fatal yang pernah terjadi pada krisis moneter 1998.
Menurutnya, krisis tersebut menghancurkan perekonomian nasional akibat kebijakan moneter yang salah arah.
“Jadi saya pelajari betul apa yang terjadi waktu itu dan bagaimana cara mengatasi krisis kalau terjadi lagi,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (10/9/2025).
Purbaya menjelaskan, krisis 1997–1998 berawal dari guncangan finansial di Asia yang bermula di Thailand hingga Korea Selatan, namun Indonesia terdampak paling parah. Kebijakan Bank Indonesia (BI) kala itu dinilai keliru, yakni menaikkan suku bunga hingga 60 persen lebih demi menjaga nilai tukar rupiah, sementara pertumbuhan uang primer justru melambung 100 persen.
“Semua berpikir kita melakukan kebijakan uang ketat. Tapi ternyata kita mencetak uang terlalu banyak. Jadi kebijakannya kacau balau, mau ketat iya, mau longgar juga iya. Itu yang menghancurkan ekonomi kita sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, kombinasi bunga tinggi dan pertumbuhan uang yang tak terkendali membuat sektor riil tercekik dan rupiah jatuh bebas. Purbaya menilai hal itu terjadi karena Indonesia belum pernah menghadapi situasi serupa sebelumnya.
Ia kemudian menyinggung perubahan kebijakan pada krisis global 2008. Saat itu, pemerintah di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memilih menjaga likuiditas agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan.
“Saya pikir dengan edukasi tahun 2008–2009 itu, semua orang sudah mengerti. Tapi rupanya kita cepat lupa,” ujarnya.
Hal serupa kembali terjadi pada 2015. Kala itu, menurut Purbaya, Presiden Joko Widodo cepat mengambil langkah koreksi kebijakan sehingga ekonomi terselamatkan. Begitu pula pada masa pandemi Covid-19 tahun 2021, ketika likuiditas kembali diperketat sehingga ekonomi hampir lumpuh.
“Uang yang ada di bank sentral waktu itu sekitar Rp500 triliun, sebagian dipindahkan ke sistem perbankan. Mei 2021, Rp300 triliun dimasukkan kembali ke sistem. Setelah itu laju pertumbuhan uang naik lagi ke double digit, dan itu yang menyelamatkan ekonomi kita,” papar Purbaya.
Ia menegaskan bahwa pembelajaran dari krisis 1998 harus terus diingat agar Indonesia tidak jatuh ke lubang yang sama.
“Kita harus sadar, ekonomi bisa hancur bukan karena faktor luar semata, tapi juga karena salah kebijakan di dalam negeri,” pungkasnya. [YKP]

