RELUNG.ID – Aroma Lebaran biasanya identik dengan kue-kue yang dipanggang menggunakan oven modern.
Namun di Desa Tebedak 2, Kecamatan Payaraman, Kabupaten Ogan Ilir, tradisi lama justru tetap bertahan dan menjadi bagian penting dari perayaan hari raya.
Warga setempat masih setia melestarikan cara tradisional dalam mengolah kue khas Lebaran, yang mereka kenal dengan istilah merendang kue basah.
Metode ini digunakan untuk membuat sajian istimewa seperti kue maksubah dan lapis legit, dua kue yang lekat dengan kemewahan rasa khas Sumatera Selatan.
Alih-alih menggunakan oven listrik atau gas, warga memanfaatkan tutup khusus berbahan tanah liat yang dipanaskan menggunakan kayu bakar.
Tutup tersebut kemudian diletakkan di atas cetakan kue, sehingga panas perlahan meresap dan mematangkan adonan dari atas.
Tradisi ini bukan sekadar teknik memasak, melainkan ritual tahunan yang selalu dinantikan menjelang Idulfitri.
“Penutupnya dipanaskan dulu sampai benar-benar panas, lalu dipakai bergantian di atas cetakan kue,” ujar Sulvi, salah satu warga yang masih setia mempertahankan cara tersebut.
Prosesnya memang membutuhkan kesabaran. Tidak ada suhu digital atau timer otomatis.
Semua mengandalkan pengalaman dan kepekaan terhadap panas yang dihasilkan dari tanah liat. Namun justru di situlah letak keistimewaannya.
Kue yang dihasilkan dari proses merendang memiliki tekstur yang lebih padat dan rasa yang lebih legit.
Aroma khas yang muncul dari pemanggangan alami juga sulit ditiru oleh teknologi modern. Selain itu, kue cenderung lebih tahan lama dan tidak mudah basi.
Di balik kelezatannya, metode ini juga menyimpan nilai efisiensi.
Dengan memanfaatkan panas dari kayu bakar dan tanah liat, warga dapat menghemat penggunaan gas dan listrik—sebuah solusi sederhana di tengah meningkatnya biaya hidup.
Lebih dari sekadar cara memasak, merendang menjadi simbol kearifan lokal yang terus dijaga.
Di tengah arus modernisasi, warga Desa Tebedak 2 membuktikan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan, melainkan bisa berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman.
Bagi mereka, merendang bukan hanya tentang menghasilkan kue Lebaran yang lezat, tetapi juga tentang merawat identitas budaya, mempererat kebersamaan, dan merayakan kesederhanaan yang penuh makna. (SLM)

