RELUNG.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terus meningkat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI mencatat karhutla di OKI mencapai 19 kasus.
BPBD Sumsel telah menempatkan Kabupaten OKI sebagai salah satu dari empat daerah berstatus zona oranye, yakni wilayah dengan 15–30 kejadian karhutla.
Tiga daerah lainnya, yakni Kabupaten OKU (19 kejadian), Kota Palembang (18 kejadian) dan Kabupaten Muratara (17 kejadian).
Sementara itu, lima daerah telah masuk zona merah dengan tingkat kejadian lebih tinggi, yakni Kabupaten PALI (57 kejadian), Musi Banyuasin (49), Ogan Ilir (42), Banyuasin (37 dan Muara Enim (33).
Kepala Pelaksana BPBD OKI, Nova Kurnia mengakui bahwa karhutla di Kabupaten OKI mulai meningkat, terutama di kawasan bergambut yang sulit dijangkau petugas.
“Memang benar kita masuk zona oranye. Karhutla mulai banyak terjadi, terutama di lahan gambut, tetapi juga ada di lahan mineral,” ujar Nova, Rabu (15/7/2026).
Nova menjelaskan, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan terbesar karena akses yang sulit membuat proses pemadaman tidak mudah dilakukan, meski melibatkan BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri hingga perusahaan sekitar.
Kemarau panjang dan angin kencang juga menjadi salah satu faktor mempercepat titik api menyebar di beberapa kawasan rawan karhutla.
BPBD OKI mencatat titik-titik yang paling sering dilanda karhutla berada di Pedamaran Timur, Pangkalan Lampam, Cengal, Sungai Menang dan Tulung Selapan.
“Dua kejadian terbaru bahkan muncul kemarin di Kecamatan Tulung Selapan dan Pangkalan Lampam, sehingga total kasus di OKI kini mencapai 19 kejadian,” jelasnya.
Meningkatnya karhutla di OKI tidak membuat pihak BPBD OKI menjadi pesimis. Menurut Nova, situasi saat ini masih dapat dikendalikan melalui upaya pencegahan dan keterlibatan masyarakat.
Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas.
“Kami mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api yang belum terpantau petugas agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” kata Nova.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD OKI telah menempatkan satuan tugas di sembilan kecamatan yang dinilai paling rawan karhutla. Namun, Nova menegaskan penanganan bencana ini tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
“Kami membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari perangkat desa hingga kecamatan, agar bersama-sama berkoordinasi dan berkolaborasi mencegah serta menanggulangi karhutla,” pungkasnya. (HWJ)

