RELUNG.ID – Dalam satu bulan terakhir, Kota Palembang mengalami peningkatan kasus kebakaran yang meresahkan masyarakat. Berbagai insiden terjadi dengan penyebab beragam, mulai dari korsleting listrik hingga penggunaan obat nyamuk bakar. Kejadian ini semakin diperparah oleh kondisi musim kemarau yang membuat kelembapan udara menurun dan bahan bangunan, terutama kayu, menjadi lebih mudah terbakar.
Pada Selasa (13/5/2025), kebakaran terjadi di Jalan Noerdin Panji, Kecamatan Sukarami. Rumah yang dihuni oleh Masitoh dan anaknya, Leni, terbakar saat keduanya meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Diduga api berasal dari korsleting listrik di bagian atas rumah.
Insiden serupa terjadi pada Jumat (16/5/2025) di Jalan Pangeran SW Subekti, Kecamatan Bukit Kecil. Rumah panggung milik Haris (35) hangus dilalap api sekitar pukul 21.30 WIB. Kebakaran ini juga disebabkan oleh korsleting listrik yang terjadi di lantai atas rumah saat rumah dalam keadaan kosong.
Kejadian tragis lainnya terjadi pada Sabtu (17/5/2025) di Jalan Noerdin Pandji, Kecamatan Sukarami. Kebakaran di sebuah rumah pengepul barang rongsokan menewaskan seorang penghuni, Senayah (59), yang terjebak di dalam rumah. Anaknya, Wantari (21), berhasil selamat meski mengalami luka bakar ringan. Kebakaran ini diduga bermula dari obat nyamuk bakar yang menyambar barang mudah terbakar di dalam rumah.
Menanggapi serangkaian peristiwa ini, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Palembang, Kemas Haikal, mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan listrik. “Perhatikan kondisi kabel dan colokan listrik. Hindari menggunakan terminal listrik secara berlebihan yang dapat menyebabkan panas berlebih dan berpotensi menjadi penyebab kebakaran,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menghindari penggunaan obat nyamuk bakar di area yang mudah terbakar, terutama rumah yang banyak menyimpan barang mudah terbakar.
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Pemadam Kebakaran Palembang mulai menggalakkan sosialisasi pentingnya memiliki alat pemadam api ringan (APAR) di setiap rumah. Program ini dijalankan melalui posyandu-posyandu di berbagai wilayah.
“Kami menganjurkan setiap rumah untuk memiliki APAR sebagai langkah awal penanganan kebakaran, termasuk untuk kendaraan pribadi. Ini adalah bentuk kesiapsiagaan masyarakat,” pungkas Haikal.[THQ]

