RELUNG.ID – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Sumatera Selatan (Sumsel) menyiapkan strategi baru untuk menghadapi sulitnya mendapatkan awan hujan di tengah musim kemarau.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kini siap dilakukan pada malam hari apabila ditemukan awan yang memenuhi syarat untuk disemai.
Dansatgas Penanganan Karhutla Sumsel Brigjen TNI Khabib Mahfud mengatakan waktu pelaksanaan OMC tidak terbatas pada siang hari. Tim siap bergerak kapan pun apabila hasil pemantauan menunjukkan adanya awan potensial di wilayah Sumsel.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi mempercepat penanganan karhutla yang terus mengancam sejumlah wilayah Sumsel. Kondisi lahan yang semakin kering membuat upaya mendapatkan tambahan curah hujan menjadi penting.
Satgas kini berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau perkembangan dan pergerakan awan. Keberadaan awan menjadi faktor utama karena OMC hanya dapat dilakukan jika terdapat awan yang memenuhi kriteria untuk penyemaian.
“Tadi sudah disampaikan juga Kepala BMKG, ada waktu malam ataupun waktu kapan pun kita siap untuk melaksanakan OMC,” ujarnya.
Dansubsatgas Udara Penanganan Karhutla Sumsel Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya mengatakan pesawat yang digunakan telah diperiksa dan tersedia untuk penerbangan malam.
“Memang available untuk melaksanakan terbang malam maupun operasi modifikasi cuaca di malam hari,” katanya.
Selain kesiapan pesawat, personel yang terlibat juga telah diperiksa kemampuan dan pengalamannya untuk menjalankan penerbangan malam maupun operasi modifikasi cuaca.
“Ini masih ketergantungan dengan cuaca. Dari BMKG memang di musim kemarau ini agak kesulitan untuk kita mendapatkan awan yang siap untuk ditaburi NaCl,” jelas Asep.
Kondisi tersebut membuat tim harus bergerak cepat. Ketika awan potensial muncul pada malam hari, pesawat akan langsung dikerahkan untuk mengejar peluang terbentuknya hujan.
“Urgensinya adalah pada saat siang hari kita kesulitan mendapatkan awan. Sehingga malam pun begitu ada awan, kita kejar,” ujarnya.
Pesawat yang disiapkan memiliki durasi penerbangan sekitar tiga hingga empat jam sehingga dapat menjangkau wilayah Sumsel secara luas.
Meski demikian, efektivitas operasi tetap sangat bergantung pada arah pergerakan awan. Satgas akan memprioritaskan awan yang bergerak menuju daratan Sumsel agar penyemaian dapat memberikan manfaat bagi wilayah yang membutuhkan hujan.
“Kalau misalkan pergerakan awannya ke daratan Sumatera Selatan, itu sangat bagus. Tapi kalau misalkan pergerakannya ternyata malah keluar dari wilayah kita ke laut, itu percuma,” kata Asep. (THQ)

