RELUNG.ID – Sebuah gerakan politik satir bernama Partai Janta Kecoa viral di India dan menarik perhatian jutaan pengguna media sosial.
Dalam waktu hanya beberapa hari, lebih dari 350 ribu orang dilaporkan telah mendaftar sebagai anggota partai tersebut melalui formulir daring.
Gerakan ini diprakarsai oleh Abhijeet Dipke, pria berusia 30 tahun lulusan hubungan masyarakat dari Universitas Boston, Amerika Serikat.
Awalnya, partai tersebut lahir dari sebuah unggahan bernada lelucon di media sosial X, namun berkembang menjadi simbol kekecewaan generasi muda India terhadap kondisi sosial dan politik negara mereka.
Nama “Janta Kecoa” sendiri merupakan plesetan dari Bharatiya Janata Party atau BJP, partai penguasa yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi.
Gelombang dukungan terhadap gerakan ini muncul setelah pernyataan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang menyamakan sebagian anak muda dengan “kecoa” karena dianggap tidak memiliki pekerjaan dan menyerang sistem melalui media sosial maupun aktivisme.
Pernyataan tersebut memicu kemarahan luas di kalangan Generasi Z India yang tengah menghadapi tingginya angka pengangguran, inflasi, dan meningkatnya ketegangan sosial di negara itu.
Melihat respons publik yang besar, Dipke kemudian membuat situs web serta akun media sosial untuk Partai Janta Kecoa. Dalam tiga hari, akun Instagram partai tersebut dilaporkan telah menembus lebih dari 3 juta pengikut.
“Jika penguasa menganggap rakyat sebagai kecoa dan parasit, maka mereka harus sadar bahwa kecoa berkembang di tempat yang busuk,” ujar Dipke kepada Al Jazeera dari Chicago.
Partai satir tersebut juga memiliki syarat keanggotaan unik dan bernada sindiran, yakni pengangguran, malas, selalu online, dan mampu “mengomel secara profesional.”
Di media sosial, partai itu menggunakan slogan:
“Sebuah front politik pemuda, oleh pemuda, untuk pemuda. Sekuler – Sosialis – Demokratis – Malas.”
Sejumlah tokoh politik dan publik India diketahui ikut mendaftar sebagai anggota, termasuk Mahua Moitra dan Kirti Azad.
Mantan birokrat India, Ashish Joshi, juga mengaku bergabung karena melihat gerakan tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap ketakutan dan tekanan politik yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
“India telah menjadi sangat penuh kebencian, dan Partai Janta Kecoa terasa seperti angin segar,” ujarnya.
Fenomena ini muncul di tengah meningkatnya keresahan generasi muda India terhadap tingginya pengangguran.
Data menunjukkan tingkat pengangguran lulusan muda di India mencapai lebih dari 29 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok masyarakat tanpa pendidikan formal.
Selain itu, kemarahan publik juga dipicu oleh berbagai isu lain, termasuk dugaan kebocoran soal ujian nasional dan kritik terhadap pemerintah Modi yang dinilai semakin menekan kritik publik.
Meski berawal dari satire dan lelucon internet, Partai Janta Kecoa kini berkembang menjadi simbol frustrasi sosial dan politik generasi muda India terhadap sistem yang ada.
Dipke mengatakan dirinya kini berusaha menjaga momentum gerakan tersebut, meski harus bekerja hampir tanpa tidur dalam beberapa hari terakhir.
“Terlalu lama orang-orang diam di India. Sekarang ada tanggung jawab untuk memanfaatkan momen ini, bukan sekadar menertawakannya,” katanya. (vid)

