RELUNG.ID – Pasar smartphone global mengalami tekanan pada kuartal II 2026. Lembaga riset pasar Omdia melaporkan penjualan smartphone dunia turun 4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada periode April–Juni 2026.
Hal ini dipicu kenaikan biaya produksi akibat krisis memori yang masih berlangsung.
Dalam laporan tersebut, Omdia menyebut kenaikan harga komponen, terutama memori dan penyimpanan, telah membuat harga smartphone semakin mahal sehingga berdampak pada penurunan permintaan, khususnya di segmen ponsel terjangkau.
Meski pasar secara keseluruhan melemah, Samsung dan Apple justru berhasil memperbesar pangsa pasar mereka.
Samsung masih menjadi pemimpin pasar dengan pangsa sebesar 22 persen, naik dari 20 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara Apple mencatat kenaikan signifikan dari 16 persen menjadi 20 persen, sekaligus mempersempit jarak dengan Samsung.
Sebaliknya, sejumlah produsen asal Tiongkok mengalami penurunan pangsa pasar. Xiaomi turun dari 15 persen menjadi 11 persen, Oppo dari 12 persen menjadi 10 persen, sedangkan vivo turun dari 9 persen menjadi 8 persen.
Omdia menilai keberhasilan Samsung didorong oleh penguatan penjualan di segmen ponsel terjangkau, ketika beberapa pesaing asal Tiongkok mengurangi jumlah produk dan menaikkan harga jual.
Sementara itu, Apple membukukan kinerja kuartal kedua terbaik sepanjang sejarah perusahaan.
Pencapaian tersebut ditopang oleh tingginya permintaan terhadap seri iPhone 17 serta keputusan perusahaan untuk mempertahankan harga jual perangkat.
Analis Utama Omdia, Runar Bjorhovde, mengatakan penurunan penjualan paling terasa terjadi pada smartphone dengan harga di bawah 400 dolar AS.
Menurutnya, segmen tersebut paling terdampak karena menghadapi kendala pasokan komponen, margin keuntungan yang tipis, serta tingkat sensitivitas konsumen terhadap harga yang sangat tinggi.
Omdia mencatat biaya memori dan penyimpanan kini menyumbang lebih dari 60 persen dari total biaya produksi smartphone kelas bawah dan lebih dari 30 persen untuk perangkat premium.
Lembaga riset tersebut memperkirakan harga komponen memori baru akan mulai menurun pada paruh kedua 2027. Namun, harganya diprediksi tetap berada di atas level sebelum 2025.
Ke depan, Omdia memperkirakan tekanan terhadap pasar smartphone masih akan berlanjut. Penurunan penjualan diperkirakan semakin tajam pada kuartal III dan kuartal IV 2026.
Kondisi tersebut dipicu kecenderungan produsen yang semakin fokus menjual perangkat di segmen premium, sehingga pilihan smartphone murah semakin terbatas.
Akibatnya, konsumen dengan anggaran terbatas diperkirakan akan menunda pembelian, memilih skema pembiayaan, atau beralih ke perangkat bekas maupun refurbished. (LWM)

