RELUNG.ID — Proposal gencatan senjata yang diajukan Hamas kembali ditolak oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menimbulkan ketegangan yang lebih dalam di kawasan konflik tersebut.
Dalam pernyataan pada Rabu (7/2), Netanyahu menolak proposal Hamas dengan tegas, menyatakan keyakinannya bahwa Israel akan memperoleh kemenangan total atas perang di Jalur Gaza dalam beberapa bulan ke depan.
Dia menilai persyaratan yang diajukan Hamas tidak masuk akal dan tidak akan menghasilkan solusi yang memuaskan.
BACA Juga : Donasi Palestina Melalui Baznas Capai Rp188 Miliar
“Tidak ada solusi lain selain kemenangan penuh dan final. Jika Hamas bisa bertahan di Gaza, itu hanya masalah waktu sampai terjadinya pembantaian berikutnya,” tegas Netanyahu, seperti dilansir BBC.
Pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri, menanggapi penolakan tersebut dengan menyebutnya sebagai upaya Israel untuk mengokupasi wilayah Gaza sepenuhnya. Abu Zuhri menekankan bahwa Hamas berdiri teguh pada proposal gencatan senjata yang telah disusun.
Dalam draf dokumen yang diusulkan oleh Hamas, gencatan senjata direncanakan berlangsung selama 135 hari dan terdiri dari tiga tahap.
BACA Juga : Pada Isra Miraj Ada Kalimat Luar Biasa yang Diajarkan
Tahap pertama melibatkan jeda pertempuran, pembebasan sandera, dan penarikan pasukan Israel dari wilayah Gaza. Sementara itu, tahap kedua mencakup pembebasan tahanan Palestina dan penarikan pasukan Israel secara menyeluruh dari Gaza.
Tahap terakhir mencakup pertukaran jenazah dan peningkatan bantuan kemanusiaan untuk penduduk Gaza.
Terkait penolakan Netanyahu, belum ada indikasi bahwa kedua belah pihak akan mencapai kesepakatan dalam waktu dekat. Sementara itu, ketegangan di kawasan tersebut terus berlanjut, meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih besar.

