RELUNG.ID – Transisi energi atau peralihan energi fosil ke non fosil bakal membuat suatu kejutan bagi perekonomian. Salah satunya yaitu menurunnya pertumbuhan ekonomi baik di Sumsel maupun di Indonesia.
Mengingat saat ini masih mengandalkan sektor primer diantaranya yaitu pertambangan.
Demikian diungkapkan oleh Akadamisi dari Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Imam Asngari dalam diskusi publik Relung Forum, Jumat malam (23/11).
“Walaupun pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan tapi itu harus dilakukan mulai saat ini,” katanya.
Menurutnya, jika energi fosil yang digunakan dikurangi maka tentunya pertumbuhan ekonomi khususnya di wilayah tambang akan menurun dan mengakibatkan dimensi sosial dan lain sebagainya.
Meski demikian, berdasarkan hasil kajian sisi marginal. Pendapatan yang diberikan energi fosil ini lebih kecil dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk dampak sosial. Artinya, pertambangan ini tentunya tidak layak untuk dipertahankan.
“Ini dapat merusak bumi, mulai dari meningkatnya panas bumi dan bencana lainnya. Bahkan, berdampak pada sektor pertanian seperti kekeringan, banjir hingga menimbulkan wabah penyakit serta produktivitas masyarakat akan menurun,” terangnya.
Di awal transisi energi memang menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi. Namun, kontraksi hanya sementara. Hal ini dapat diatasi jika pemerintah dapat melakukan hilirisasi seperti komoditas unggulan karet, sawit dan kopi.
Sehingga, tidak lagi menjual dalam bentuk mentah tetapi sudah dalam bentuk olahan. Ini tentunya akan menambah nilai tambah.
“Peluang kerja juga akan meningkat dan dapat mengurangi pengangguran,” jelasnya.
Dia menambahkan, transisi energi ini memang dapat menyebabkan gelombang PHK tetapi ini bisa diatasi dengan peluang usaha baru yang tentunya menggerakkan industri berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).
“Dengan begitu, kemiskinan akan menurun dan lingkungan akan tetap terjaga. Jadi kuncinya yaitu hilirisasi dan industri,” pungkasnya. (AAL)

