RELUNG.ID- Dugaan kasus perundungan kembali mencuat di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri).
Seorang mahasiswi PPDS berinisial OA diduga menjadi korban perundungan oleh para seniornya hingga mengalami tekanan psikologis berat dan dikabarkan nyaris melakukan aksi bunuh diri.
Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Mohammad Hoesin Palembang, Siti Khalimah, membenarkan bahwa OA merupakan peserta PPDS yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis mata dan bertugas di rumah sakit tersebut.
“Iya benar, tetapi karena ini menyangkut masalah kemahasiswaan, penanganannya dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Unsri,” kata Siti Khalimah melalui pesan WhatsApp, Kamis (8/1/2026).
Menurut Siti, kasus dugaan perundungan yang menimpa OA saat ini tengah diselidiki oleh pihak Universitas Sriwijaya. Ia menambahkan, kasus perundungan di lingkungan PPDS Unsri bukan kali pertama terjadi.
Pada Maret 2025 lalu, seorang mahasiswa PPDS Unsri berinisial S yang menempuh pendidikan spesialis anestesi menjadi korban kekerasan fisik. Korban ditendang di bagian testis oleh seorang dokter berinisial YS yang merupakan konsulennya sendiri hingga harus menjalani perawatan medis. Akibat peristiwa tersebut, YS dinonaktifkan sebagai pengajar di RSUP Mohammad Hoesin Palembang.
Untuk mencegah kasus serupa terulang, pihak RSUP Mohammad Hoesin Palembang bersama Fakultas Kedokteran Unsri telah membentuk tim pencegahan dan penanganan bullying.
“Kami melakukan sosialisasi berkala tentang larangan perilaku bullying, penindakan terhadap pelaku, perlindungan bagi pelapor, serta memberikan dukungan psikososial kepada peserta PPDS untuk meningkatkan resiliensi dan kohesi antar PPDS,” ujar Siti.
Sementara itu, pihak Rektorat Unsri menyatakan telah mengambil langkah awal secara institusional untuk menangani dugaan perundungan tersebut. Rektor Unsri menugaskan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) untuk melakukan investigasi.
Kepala Kantor Humas dan Protokoler Unsri, Nurly Meilinda, mengatakan tahap klarifikasi telah dilakukan dengan meminta keterangan dari berbagai pihak yang berada dalam lingkup akademik yang sama, termasuk senior dan sejawat korban.
“Langkah ini dilakukan untuk memahami konteks permasalahan secara menyeluruh dan berimbang,” kata Nurly dalam keterangan tertulis.
Ia menambahkan, Fakultas Kedokteran Unsri juga telah memberikan pendampingan akademik dan non-akademik berupa layanan konseling sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan mahasiswa.
“Saat ini proses investigasi internal masih berlangsung. Universitas Sriwijaya berkomitmen menciptakan lingkungan akademik yang aman, sehat, dan bermartabat, serta tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan dan perundungan,” pungkasnya.[YKP]

