RELUNG.ID – Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menekan kualitas udara Kota Palembang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat kembali menggunakan masker, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Peringatan ini bukan tanpa alasan. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di kawasan Musi 2 Palembang pada Jumat (7/8/2026) sore tercatat mencapai 57,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut sudah melewati ambang batas dan menempatkan kualitas udara dalam kategori tidak sehat.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan penurunan kualitas udara diduga berkaitan dengan asap karhutla dari sejumlah wilayah Sumatera Selatan yang terbawa angin hingga ke Palembang.
“Kami mencatat nilai PM2.5 sebesar 57,2 µg/m³ pada pukul 18.00 WIB. Berdasarkan klasifikasi BMKG, kualitas udara sudah masuk kategori tidak sehat karena melebihi nilai ambang batas,” ujar Wandayantolis.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi warga. Asap karhutla tidak lagi hanya menjadi masalah di kawasan yang terbakar, tetapi sudah berdampak ke pusat aktivitas masyarakat di Palembang.
BMKG mengingatkan masyarakat tidak menunggu kondisi udara semakin buruk. Jika udara mulai tampak berkabut, jarak pandang menurun, atau bau asap mulai tercium, warga disarankan segera mengurangi paparan.
“Bisa jadi penurunan kualitas udara ini akibat asap karhutla. Jika secara visual udara terlihat kabur atau tercium bau asap, sebaiknya melindungi diri dengan memakai masker atau membatasi aktivitas di luar ruangan,” katanya.
Kelompok rentan diminta mendapat perhatian lebih. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki asma dan infeksi saluran pernapasan (ISPA) dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat.
BMKG juga meminta masyarakat tidak mengabaikan kondisi udara hanya karena kabut asap belum terlihat pekat. Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
“Selama kondisi ini berlangsung, masyarakat diimbau memakai masker saat berada di ruang terbuka, mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak, serta terus memantau perkembangan kualitas udara untuk menghindari dampak buruk terhadap kesehatan,” pungkas Wandayantolis. (CKM)

