RELUNG.ID – Aktivitas kapal tongkang pengangkut batu bara di Sungai Musi menjadi salah satu kendala utama dalam penyelesaian Jembatan Musi 5 Palembang.
Jembatan yang menjadi bagian dari ruas Tol Palembang-Betung ini merupakan infrastruktur vital yang harus segera rampung agar Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut dapat terealisasi.
EVP Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero), Adjib Al Hakim, yang dibincangi mengakui bahwa lalu lintas tongkang batu bara yang tinggi di Sungai Musi menjadi tantangan besar dalam proses pembangunan.
“Tingginya volume lalu lintas tongkang batu bara yang melintasi Sungai Musi jadi salah satu tantangan kami dalam proses penyelesaian Jembatan Musi 5,” ujar Adjib dalam keterangan resmi yang diterima Relung.id, Selasa (4/2/2025) lalu.
Untuk mengatasi permasalahan ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait guna mengatur jalur perairan agar proses pembangunan tidak terganggu.
“Kami terus berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Distrik Navigasi Kelas 1 Palembang dan Kementerian Perhubungan, untuk menjaga keselamatan serta keamanan alur Sungai Musi. Kami juga berkomunikasi dengan VTS Palembang guna memantau kapal-kapal yang melintas selama proses pembangunan,” jelasnya.
Saat ini, progres pembangunan Jembatan Musi 5 telah mencapai 77 persen. Jembatan sepanjang 1,6 kilometer ini memiliki bentang utama sepanjang 180 meter yang berada di tengah Sungai Musi—jalur utama lalu lintas angkutan sungai.
Jembatan ini memiliki lebar 2 x 12,7 meter dengan dua lajur kendaraan di setiap arah dan tinggi 16 meter dari muka air. Adjib memastikan bahwa ketinggian tersebut sudah sesuai dengan rekomendasi teknis Distrik Navigasi, Kementerian Perhubungan, agar aman bagi lalu lintas sungai.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keberadaan jembatan ini akan meningkatkan kapasitas transportasi dari dan menuju Palembang, khususnya di ruas Tol Palembang-Betung. Selain itu, infrastruktur ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan serta memperlancar distribusi barang dan jasa.
“Jembatan ini juga dilengkapi dengan teknologi System Health and Monitoring System (SHMS) yang berfungsi untuk memantau keamanan dan kondisi struktur Jembatan Musi 5,” tambahnya.
Tak Hanya Hambat PSN, Tongkang Batu Bara Juga Ancam Lingkungan
Direktur Suara Informasi Rakyat Sriwijaya, Rahmat Sandi, menilai bahwa tingginya intensitas tongkang batu bara tidak hanya menghambat penyelesaian PSN, tetapi juga merugikan masyarakat.
“Kami mendorong adanya kebijakan pengaturan jadwal kapal tongkang, terutama di area pembangunan jembatan, agar proyek ini dapat diselesaikan tepat waktu,” ujarnya saat ditemui, Selasa (5/2/2025).
Menurut Rahmat, proyek ini bukan sekadar infrastruktur, tetapi juga bagian dari kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Sumatera Selatan. Ia menegaskan bahwa kepentingan segelintir pihak tidak boleh menghambat proyek strategis yang lebih luas manfaatnya.
Sementara itu, Ketua Pemuda Hijau Sumatera Selatan, Kevin Adrian, menyoroti dampak lingkungan dari maraknya lalu lintas kapal batu bara di Sungai Musi.
“Kita harus melihat persoalan ini dari dua sisi, pembangunan infrastruktur dan dampak lingkungan. Aktivitas tongkang yang terus-menerus melintas bukan hanya memperlambat pembangunan jembatan, tetapi juga berpotensi mencemari sungai dan mengganggu ekosistem air,” tegasnya.
Kevin menekankan pentingnya tindakan tegas dari pemerintah dalam mengatur jadwal kapal tongkang. Ia juga menyoroti perlunya pengawasan ketat terhadap proyek ini agar tidak menambah kerusakan lingkungan di kawasan Sungai Musi.
“Intensitasnya harus diatur agar tidak menghambat pembangunan. Jalur tol ini sangat dibutuhkan untuk mengurai kemacetan di ruas Palembang-Betung,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun berstatus PSN, proyek ini harus tetap memenuhi prinsip kelestarian lingkungan. “Jangan sampai proyek yang bertujuan meningkatkan mobilitas justru memperparah kerusakan lingkungan. Pemerintah harus memastikan bahwa proyek ini berjalan dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan,” pungkasnya. (TIM)

