RELUNG.ID — Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengakui bahwa langkah-langkah besar yang ia ambil dalam memimpin Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Di tengah upaya mempercepat pengentasan kemiskinan dan mewujudkan swasembada pangan, ia menyebut kerap menghadapi hambatan, bahkan tudingan ekstrem yang menyebut dirinya ingin berkuasa secara otoriter.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1). Dalam suasana penuh simbol kedaulatan pangan, Prabowo memilih berbicara reflektif tentang makna kepemimpinan dan komitmen pribadinya kepada rakyat.
Menurut Prabowo, tuduhan dan resistensi merupakan bagian dari konsekuensi perjuangan membawa perubahan besar. Namun, ia menegaskan bahwa arah kepemimpinannya tetap berpijak pada nilai yang ia pegang sejak muda sebagai prajurit TNI.
“Saya bersumpah sebagai prajurit tentara rakyat. TNI lahir dari rakyat, dan harus selalu berdiri bersama rakyat,” ujarnya.
Prabowo kemudian mengingatkan kembali sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, ketika negara belum memiliki sistem anggaran, pajak, maupun lembaga keuangan. Pada masa itu, kata dia, rakyat menjadi tulang punggung utama perjuangan bangsa.
“Pejuang-pejuang kita bisa bertahan karena rakyat yang memberi makan, memberi dukungan, dan berdiri di belakang kemerdekaan,” tuturnya.[THQ]

