RELUNG.ID — Program makan makanan bergizi yang dicanangkan oleh Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2024, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, diperkirakan akan memberikan beban signifikan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kepala Center of Digital Economy and SMEs Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eisha Maghfiruha, menilai bahwa realisasi program ini akan meningkatkan pengeluaran pemerintah secara signifikan.
“Evaluasi terhadap rencana program makan siang atau makan bergizi ini jelas akan berdampak pada anggaran fiskal berupa peningkatan belanja,” ujar Eisha, pada Selasa (28/5).
Menurut Eisha, pelaksanaan program makan makanan bergizi memerlukan anggaran yang cukup besar, diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah.
“Program ini akan meningkatkan pengeluaran pemerintah secara signifikan. Perkiraan awal menunjukkan kebutuhan anggaran mencapai Rp460 triliun,” ungkapnya.
Jika anggaran untuk program ini dimasukkan ke dalam APBN 2024, maka secara persentase memang tidak terlihat banyak.
“Setara dengan 7,23 persen dari total belanja negara dalam APBN 2024 yang totalnya Rp 3.325,1 triliun,” jelas Eisha.
Namun, Eisha memperingatkan bahwa realisasi program makan makanan bergizi ini akan menambah beban utang negara karena sifatnya yang berkesinambungan.
“Peningkatan belanja ini berpotensi memperbesar defisit fiskal dan mendorong pemerintah untuk menambah utang,” tambahnya.
Program ini, meskipun bertujuan baik untuk meningkatkan gizi masyarakat, perlu diwaspadai dampaknya terhadap stabilitas fiskal negara.
Pemerintah harus mempertimbangkan berbagai faktor agar program ini tidak menjadi beban berat bagi APBN dan ekonomi negara.

