RELUNG.ID — Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatra Selatan, Wandayantolis, mengumumkan bahwa sebagian besar wilayah Sumsel akan memasuki periode Hari Tanpa Hujan (HTH).
Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan terutama di wilayah timur Sumsel dan berpotensi menyebabkan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Wandayantolis menjelaskan bahwa Sumsel telah memasuki puncak musim kemarau yang berlangsung pada Juli dan Agustus.
“Sebagian wilayah di Sumsel telah memasuki musim kemarau, sementara yang lainnya masih berada dalam masa transisi menuju musim kemarau,” ungkapnya pada Kamis (1/8/2024).
Puncak musim kemarau di Sumsel diperkirakan berlangsung selama 30-45 hari ke depan dengan potensi hujan yang menurun drastis. Jika hujan turun, sifatnya lokal dan tidak merata.
Pada Dasarian I Agustus 2024, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Sumsel akan mengalami hujan kategori rendah sekitar 0-50 mm. Curah hujan dengan intensitas menengah, tinggi, dan sangat tinggi diprediksi tidak akan terjadi.
“Perlu diwaspadai kejadian ekstrem dan potensi bencana hidrometerologis berupa kekeringan pada Dasarian I Agustus 2024,” jelas Wandayantolis.
Untuk Dasarian II (11-20 Agustus 2024), BMKG memprediksi tidak ada hujan dengan intensitas sangat tinggi (300 mm) dan tinggi (150-300 mm) di Sumsel. Sebagian besar wilayah Sumsel akan mengalami hujan intensitas rendah (0-50 mm).
Hujan dengan intensitas menengah (50-150 mm) akan terjadi di 12 kabupaten dan kota, termasuk Pagar Alam, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Lubuk Linggau, Empat Lawang, Lahat Selatan, Muara Enim, OKU, OKU Selatan, OKI bagian Timur, dan Banyuasin bagian Utara.
Pada Dasarian III, diprediksi tidak akan terjadi hujan dengan intensitas sangat tinggi dan tinggi. Hujan yang turun hanya bersifat lokal di sebagian wilayah Sumsel dengan peluang 60 persen, sementara hujan intensitas menengah berpeluang 30 persen terjadi di Sumsel bagian Timur, Barat, dan Tengah.
Wandayantolis mengimbau masyarakat dan stakeholder di Sumsel untuk berhati-hati menghadapi dampak kekeringan. Kekeringan dapat meningkatkan potensi hot spot (titik panas) yang bisa memicu fire spot (titik api).
“Kami mengimbau masyarakat, terutama di wilayah rawan karhutla, untuk tidak melakukan pembakaran hutan/lahan selama musim kemarau. Bijak dalam penggunaan air dan selalu menjaga sanitasi lingkungan,” ujar Wandayantolis.
Dengan cuaca yang semakin kering, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan mengambil langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan.[AYK]

