RELUNG.ID- Lebaran selalu menjadi momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Palembang. Di antara berbagai tradisi khas Idulfitri, Rumpak-Rumpakan menjadi salah satu yang paling dinantikan, terutama oleh warga keturunan Arab di Kelurahan Kuto Batu Kampung Arab 14 Ulu dan Kelurahan 1 Ulu.
Tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun ini merupakan bentuk silaturahmi dengan cara unik dan meriah. Usai salat Idulfitri, para lelaki dari berbagai usia mulai dari anak-anak hingga orang tua berpakaian putih dan berjalan dari rumah ke rumah, diiringi tabuhan rebana dan lantunan selawat.
Sejak pagi, suasana kampung dipenuhi semarak kegembiraan. Anak-anak berlarian mengikuti rombongan, sementara rebana terus dimainkan, menciptakan harmoni yang menyatu dengan semilir angin Lebaran. Bagi mereka, tradisi ini memiliki daya tarik tersendiri: amplop berisi uang yang diberikan oleh setiap tuan rumah yang mereka kunjungi.
Di setiap rumah, para tamu disambut dengan tangan terbuka. Sajian khas Lebaran seperti kue lapis dan dodol Palembang tersaji di meja. Setelah bersalaman dan saling memaafkan, selawatan dipimpin oleh seseorang yang memiliki suara terbaik.
Sebelum berpindah ke rumah berikutnya, mereka menutup pertemuan dengan doa bersama, mengharap keberkahan dan kebahagiaan.
Meski tidak diketahui secara pasti kapan tradisi ini dimulai, sejarah mencatat bahwa warga keturunan Arab telah menetap di Palembang sejak ratusan tahun lalu. Kampung Arab seperti Kuto Batu dan Al-Munawar menjadi saksi bisu keberlangsungan tradisi ini dari generasi ke generasi.
Rumpak-Rumpakan biasanya berlangsung selama beberapa hari. Hari pertama Lebaran, rombongan mengunjungi rumah-rumah orang yang dituakan terlebih dahulu, dilanjutkan ke rumah lainnya. Pada hari kedua, mereka menyambangi rumah-rumah yang belum sempat dikunjungi, dan pada hari ketiga, biasanya ada warga yang menggelar pernikahan sebagai bagian dari kemeriahan Idulfitri.
Selain Rumpak-Rumpakan, warga asli Palembang dan Sumatera Selatan memiliki tradisi Sanjo, yang juga merupakan ajang silaturahmi Lebaran. Meski tidak semeriah Rumpak-Rumpakan, Sanjo tetap memiliki makna mendalam.
Biasanya, jamaah masjid atau musala akan berkeliling mendatangi rumah-rumah setelah salat Idulfitri. Berbeda dengan Rumpak-Rumpakan, Sanjo tidak selalu diiringi musik atau selawatan.
Saat tiba di rumah yang dikunjungi, mereka menikmati hidangan Lebaran dan berdoa bersama sebagai wujud syukur atas selesainya ibadah puasa. Doa juga dipanjatkan untuk keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi tuan rumah serta semua yang hadir.
Di tengah modernisasi, tradisi-tradisi seperti Rumpak-Rumpakan dan Sanjo tetap bertahan, menjadi pengingat bahwa Lebaran bukan sekadar tentang pakaian baru atau hidangan lezat, tetapi tentang kebersamaan, harmoni, dan cinta kasih antarsesama.
Palembang, dengan segala kekayaan budayanya, terus merawat tradisi ini agar tetap hidup di hati setiap generasi.[YKP]

