RELUNG.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah signifikan. Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (19/12) pukul 14.47 WIB, rupiah tercatat di level Rp 16.307 per dolar AS, melemah 210 poin atau 1,3 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Edi Susianto, menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh kebijakan Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dan memberikan sinyal akan melakukan dua pemangkasan lagi pada 2025.
“Kondisi ini adalah respons pasar terhadap keputusan dan arah kebijakan Fed semalam,” kata Edi.
Pelemahan rupiah ini juga melampaui asumsi pemerintah dalam APBN 2025 yang menetapkan rentang kurs di Rp 16.000 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai intervensi di pasar keuangan domestik. Langkah ini dilakukan melalui:
BI masuk ke pasar spot untuk menstabilkan kurs.
Langkah ini bertujuan untuk menenangkan pelaku pasar terhadap ekspektasi pelemahan jangka pendek.
Intervensi dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor terhadap aset domestik.
“BI tentu terus mengawal nilai tukar dengan masuk pasar untuk menjaga stabilitas,” ujar Edi.
Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah berada di Rp 16.238 per dolar AS, melemah 141 poin atau 0,88 persen. Namun, nilai tersebut terus tertekan hingga siang hari dan menyentuh Rp 16.307 per dolar AS.
Pelemahan ini berpotensi meningkatkan beban impor dan utang luar negeri pemerintah, sekaligus memberikan tekanan pada inflasi domestik. Meski demikian, BI tetap optimis mampu menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasi dengan pemerintah dan langkah-langkah stabilisasi moneter yang terukur.[TRA]

