Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mutasi Polri, Brigjen Irwansyah Kini Dipercaya Jadi Wakapolda Sumsel

11/10/2026

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/2026

Polri Mutasi 199 Personel, Jabatan Kakorlantas dan Tiga Kapolda Berganti

11/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Saatnya Indonesia Memimpin! Industri Surya Terpadu untuk Kemandirian Energi Nasional
Regional

Saatnya Indonesia Memimpin! Industri Surya Terpadu untuk Kemandirian Energi Nasional

alwiBy alwi05/08/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). (ist)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Indonesia dinilai perlu mengambil langkah nyata dalam membangun industri energi surya yang terintegrasi guna mencapai target transisi energi nasional dan memperkuat ketahanan energi.

Terlebih lagi, Presiden menyatakan bahwa Indonesia berpotensi mencapai 100 persen energi terbarukan dalam kurun 10 tahun.

Untuk mendukung ambisi besar tersebut, Indonesia perlu melampaui pendekatan formal seperti RUPTL dan fokus pada implementasi nyata termasuk penguatan rantai pasok industri fotovoltaik dari hulu hingga ke hilir.

Baca juga :   Indonesia dan Malaysia Perpanjang Kerja Sama Pertukaran Mata Uang Senilai Rp82 Triliun

“Letak strategis Indonesia di Asia Tenggara dan akses ke pasar Asia-Pasifik menjadikan kita kandidat kuat sebagai pusat produksi PLTS regional. Ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah menurunnya kontribusi batu bara,” kata CEO IESR Fabby Tumiwa dikutip dari keterangan resminya, Selasa (5/8/2025).

Dia menyoroti pentingnya memanfaatkan sumber daya mineral kritis yang melimpah di dalam negeri, serta mendorong Satgas Hilirisasi untuk menjadikan sektor energi bersih sebagai prioritas strategis nasional.

Meskipun RUPTL PLN 2025–2034 menargetkan kapasitas terpasang PLTS sebesar 17,2 GW, dan rencana ekspor listrik ke Singapura sebesar 3,5 GWac, hingga saat ini Indonesia belum memiliki industri hulu fotovoltaik seperti polisilikon, ingot, wafer, serta komponen penting lain seperti low iron tempered glass.

Baca juga :   Sertijab Kapolres Muba dan OKU Timur, Ruri Prastowo Sampaikan Terima Kasih kepada Masyarakat

Padahal, menurut Alvin Putra Sisdwinugraha, Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan IESR, Indonesia memiliki lebih dari 17 miliar ton cadangan pasir kuarsa sebagai bahan baku utama polisilikon, yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

“Potensi bahan baku ini dapat menurunkan biaya produksi polisilikon secara signifikan, yang saat ini berada pada kisaran USD 8–9 per kg,” jelasnya.

Di sisi hilir, kapasitas produksi modul surya Indonesia mencapai 10,6 GW, sementara sel surya sebesar 9,5 GW. Namun, utilisasi pabrik masih rendah karena minimnya permintaan dalam negeri dan masih lemahnya ekosistem industri penunjang.

Baca juga :   KAI Divre III Palembang Jelaskan Perbedaan Tarif KA PSO dan Komersial

Karena itu, kajian IESR menyarankan pengembangan rantai pasok fotovoltaik dilakukan dalam tiga tahap, yakni Jangka pendek (2025–2030) penguatan fondasi industri dan peningkatan permintaan. Jangka menengah (2031–2040): pengembangan teknologi dan ekspansi produksi. Lalu, Jangka panjang (2041–2060): integrasi global dan inovasi berkelanjutan.

Menurutnya, kajian ini juga mendorong penetapan peta jalan strategis nasional; Pembentukan kelompok kerja lintas sektor; Insentif fiskal dan nonfiskal; Perbaikan regulasi dan harmonisasi bea masuk; Preferensi harga untuk modul surya lokal; dan Pembentukan konsorsium nasional dari hulu ke hilir.

“Di tingkat regional, kerja sama melalui AFTA, percepatan otomasi manufaktur, pembangunan pusat riset dan pengembangan (R&D) terpadu, serta pembiayaan dari lembaga keuangan nasional menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing global,” pungkasnya. (LWM)

Indonesia Industri Surya Kemandirian Energi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleNgantuk Saat Nyetir, Truk Tabrak Median Fly Over Simpang Bandara

Next Article Korupsi Dana Desa Rp 1 Miliar, Mantan Kades Lirik Ditangkap Polisi


alwi

Related Posts

Regional

Mutasi Polri, Brigjen Irwansyah Kini Dipercaya Jadi Wakapolda Sumsel

11/10/202615 Views
Regional

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/20263 Views
Regional

Polri Mutasi 199 Personel, Jabatan Kakorlantas dan Tiga Kapolda Berganti

11/10/20268 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,973 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,844 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,817 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?