RELUNG.ID – Potongan tarif listrik sebesar 50 persen menjadi salah satu penyebab utama deflasi di Sumatera Selatan pada Januari 2025. Namun, tak hanya listrik, sejumlah komoditas pangan juga berkontribusi dalam menciptakan deflasi yang tercatat sebesar 0,36 persen (mtm).
Komoditas seperti tomat, telur ayam ras, bawang merah, dan ketimun turut memberikan andil signifikan terhadap penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumsel.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Ricky Perdana Gozali menjelaskan, kontribusi masing-masing komoditas terhadap deflasi yaitu tomat sebesar 0,14 persen (mtm), telur ayam ras 0,02 persen (mtm), bawang merah 0,02 persen (mtm), dan ketimun 0,01 persen (mtm).
“Penurunan tarif listrik memberikan andil deflasi terbesar, yaitu sebesar 1,22 persen (mtm), seiring dengan kebijakan diskon 50 persen untuk pelanggan rumah tangga dengan daya kurang dari 2.200 VA. Sementara deflasi pada komoditas pangan didorong oleh peningkatan pasokan di pasar dan penurunan harga pakan ternak,” ungkap Ricky, Jumat (8/2).
Harga tomat dan bawang merah menurun berkat melimpahnya stok di pasaran, sedangkan harga telur ayam ras terkoreksi akibat penurunan harga jagung pipilan sebagai bahan baku pakan ternak.
Secara tahunan, inflasi Sumatera Selatan tercatat sebesar 0,92 persen (yoy), turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 1,20 persen (yoy). Angka ini juga lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 0,76 persen (yoy).
Ricky menambahkan, pencapaian ini tidak terlepas dari peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Selatan yang konsisten menerapkan strategi 4K: Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, TPID menggelar operasi pasar murah untuk menjaga daya beli masyarakat dan menstabilkan harga bahan pokok. Selain itu, pengawasan ketat dilakukan terhadap distribusi minyak goreng, dengan inspeksi langsung ke produsen dan distributor utama guna memastikan kestabilan harga dan pasokan.
Langkah tersebut didukung sinergi lintas instansi melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan Gerakan Pengendalian Inflasi Serentak se-Sumsel (GPISS), serta implementasi program Sumsel Mandiri Pangan. (KPB)

