RELUNG.ID – Tujuh Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di Jalan Putri Rambut Selako, RT 16, RW 07, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat (IB) I, Palembang, kembali dibuat terkejut.
Pasalnya, akses keluar masuk rumah mereka kembali ditutup oleh warga yang mengklaim jika jalan tersebut tanahnya.
“Ini sudah kedua kalinya ditutup. Padahal, sebelumnya sempat dibongkar oleh Satpol PP,” kata Atik, salah satu warga di lokasi.
Dia pun mengaku kecewa atas sikap warga yang mengklaim jika jalan tersebut merupakan tanahnya. Padahal, di peta PUPR pada aplikasi bumi sentuh tanahku, jalan tersebut memang merupakan akses keluar masuk atau jalan sebesar 6 x18 meter ke belakang.
Selain itu, dari sertifikat yang ditunjukkan warga pengklaim lahan ini, juga sebelumnya segitigas. Namun, sekarang menjadi per segi empat.
“Ini tentunya melangkahi aturan dari pemerintah, karena mereka mengklaim jalan tersebut miliknya, padahal lokasi ini merupakan jalan,” tegasnya.
Akibat penutupan tersebut, tentunya menganggu aktivitas warga, karena itu dia berharap untuk jalan yang ditutup lagi segera dibongkar lagi.
“Apalagi ada sebanyak 7 kepala keluarga yang menggunakan jalan untuk melintas keluar masuk, apalagi saya juga ada punya tanah dibelakang bagaimana mau membangun kalau tidak ada jalan, sementara itu sejak Tahun 1973 sudah menjadi salah satu jalan utama,” tegasnya.
Ditambahkannya, dirinya memiliki surat menyurat tanah tahun 1973 masih utuh dan belum terpecah. “Sudah ada lengkap, surat induk ada, sertifikat ada,” tutupnya.
Ditempat yang sama, warga Ateng menambahkan, penutupan ini tentunya menganggu aktivitas warga. Apalagi kendaraan roda empat tidak bisa masuk.
“Kami harap penutupan jalan ini segera dibongkar,” singkatnya.
Sementara itu, Keponakan Pemilik Tanah, Marcel mengklaim jika yang memasang penutup jalan tersebut merupakan bibinya karena memang tanah itu merupakan miliknya yang telah bersertifikasi SHM.
“Yang dipagar itu ada sertifikat, SHM. Jadi ada pembuktiannya,” tegasnya.
Menurutnya, permasalahan ini terjadi kurang lebih sekitar tiga tahun lalu. Saat itu, warga di belakang rumah bibinya mengecor jalan, tapi justru menganggu warung bibinya hingga membuat pelanggan sempat terjatuh.
Kemudian, berbagai upaya dilakukan antar warga dan bibinya. Bahkan, dirinya sempat melakukan mediasi.
“Saya sempat bertanya, apa yang mereka inginkan. Katanya ingin jalan, kalau dikasih jalan jangan arogansi. Kenapa sampai di pagar kemarin, karena sikap arogansi. Dikasih jalan, malah semena-mena dengan bibi, jadi otoriter,” jelas dia.
Karena sikap warga di belakang yang tidak mengenakan sehingga bibinya menjadi emosi dan menutup akses jalan dengan menggunakan rantai ini.
“Bukan dipagar habis, itu tetap ada akses motor. Ini dibuat karena bibi saya masih kasian dengan warga,” tutupnya. (DNP)

