RELUNG.ID- Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel) pada tahun 2025 diperkirakan berada pada kisaran 4,8–5,6 persen (yoy).
Prediksi ini didorong oleh berbagai stimulus pemerintah, program swasembada pangan, dan program MBG, yang berdampak positif pada kinerja ekonomi daerah.
“Secara ekonomi, Sumsel tumbuh 5,8 persen, menjadi kedua tertinggi di Sumatera. Perekonomian yang kuat ini ditopang sektor pertambangan (24,45%), industri pengolahan (18,16%), dan perdagangan (14,16%),” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel, Bambang Pramono saat pembekalan materi capacity building dan gathering wartawan ekonomi dan bisnis di Yogyakarta, 25–27 September 2025.
Inflasi Sumsel pada Agustus 2025 tercatat mengalami deflasi 0,04% (mtm), lebih rendah dibanding Juli 2025 yang mengalami inflasi 0,14% (mtm). Secara tahunan, inflasi Sumsel mencapai 3,04% (yoy), sedikit meningkat dari 2,88% (yoy) pada bulan sebelumnya.
Deflasi didorong oleh beberapa komoditas, seperti daging ayam ras, tomat, cabai rawit, bawang putih, dan beras, yang mengalami kelebihan pasokan.
Di sektor perbankan, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) melambat dari 7,15% (yoy) pada triwulan II 2025 menjadi 6,91% (yoy) pada triwulan III 2025.
Perlambatan ini terutama berasal dari rendahnya pertumbuhan tabungan dan deposito. Sementara penyaluran kredit triwulan III 2025 tercatat 6,51% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 7,17% (yoy), terutama pada kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi.
Bambang menambahkan, optimisme konsumen Sumsel tetap terjaga hingga September 2025, didorong konsumsi barang kebutuhan tahan lama dan ketersediaan lapangan kerja yang stabil. Selain itu, cuaca yang relatif lebih stabil turut meningkatkan produktivitas sektor pertanian, memperkuat perekonomian daerah.[CKM]

